Round-Up

Amsterdam Jadi Kota Pertama di Belanda yang Minta Maaf ke Indonesia

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 03 Jul 2021 04:52 WIB
Mayor Femke Halsema apologized for the involvement of the citys rulers in the slave trade during a nationally televised annual ceremony in Amsterdam, Netherlands, Thursday, July 1, 2021, marking the abolition of slavery in its colonies in Suriname and the Dutch Antilles on July 1, 1863. The anniversary is now known as Keti Koti, which means Chains Broken. Debate about Amsterdams involvement in the slave trade has been going on for years and gained attention last year amid the global reckoning with racial injustice that followed the death of George Floyd in Minneapolis last year. (AP Photo/Peter Dejong)
Foto: AP Photo/Peter Dejong
Jakarta -

Kota Amsterdam di Belanda menjadi kota pertama yang meminta maaf atas perdagangan budak pada era kolonialisme di masa lalu. Permintaan maaf itu juga ditujukan ke Indonesia.

Permintaan maaf itu disampaikan langsung oleh Wali Kota Amsterdam, Femke Halsema. Dia meminta maaf karena Amsterdam terlibat aktif dalam penjajahan zaman dahulu.

"Atas nama kota ini, saya meminta maaf atas keterlibatan aktif dewan kota Amsterdam dalam sistem komersial perbudakan kolonial dan perdagangan manusia global yang mengarah pada perbudakan," ucap Femke Halsema, seperti dilansir AFP, Jumat (2/7).

Seperti diketahui, Belanda sempat menjajah Indonesia selama lebih dari 3,5 abad. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, masih terjadi peperangan dengan pihak Belanda dalam momen yang umum disebut sebagai Agresi Militer I dan II.

Pada puncak kerajaan kolonial, United Provinces yang kini dikenal sebagai Belanda memiliki wilayah penjajahan seperti Suriname, Pulau Curacao di Karibia, Afrika Selatan dan Indonesia, di mana Perusahaan Hindia Timur Belanda bermarkas pada abad ke-17 silam.

Di Belanda, seperti di negara-negara Eropa lainnya, perdebatan soal masa lalu kolonialisme dan peran dalam perbudakan mencuat setelah gerakan Black Lives Matter marak di Amerika Serikat (AS).

"Sudah waktunya untuk mengintegrasikan ketidakadilan besar dari perbudakan kolonial ke dalam identitas kota kita," ujar Halsema dalam pidato memperingati penghapusan perbudakan pada 1 Juli 1863 di Suriname dan Karibia yang menjadi bagian Kerajaan Belanda.

Halsema menyebut bahwa Provinsi Holland, yang mencakup Amsterdam, menjadi 'pemain utama dalam perdagangan dan eksploitasi budak-budak'. Dia menambahkan bahwa pada abad ke-18 sekitar '40 persen pertumbuhan ekonomi datang dari perbudakan'.

"Dan di Amsterdam, hampir semua orang mendapatkan uang berkat koloni Suriname," sebutnya, mengutip Dewan Kota yang merupakan co-owner dan co-administrator koloni.

Raja Belanda Minta Maaf atas Kekerasan yang Terjadi Setelah Proklamasi

Sebelum Femke Halsema meminta maaf mewakili Amsterdam, Raja Belanda Willem Alexander sudah lebih dulu meminta maaf ke Indonesia atas kekerasan di masa penjajahan, namun untuk kekerasan yang terjadi setelah proklamasi. Hal itu disampaikan Willem ketika mengunjungi Indonesia dan bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Di tahun-tahun setelah diumumkannya Proklamasi, terjadi sebuah perpisahan yang menyakitkan dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Selaras dengan pernyataan pemerintahan saya sebelumnya, saya ingin menyampaikan penyesalan saya dan permohonan maaf untuk kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun tersebut," ujar Raja Willem di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/3/2020).

"Saya melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa rasa sakit dan kesedihan bagi keluarga-keluarga yang terdampak masih dirasakan sampai saat ini," imbuh Raja Willem.

Diketahui, Amsterdam menjadi kota pertama di Belanda yang menyampaikan permohonan maaf. Langkah ini bisa diikuti oleh kota Rotterdam, Utrecht dan ibu kota administrasi Den Haag, yang juga memperdebatkan isu yang sama.

Di level nasional, Belanda belum secara resmi meminta maaf atas perannya dalam perbudakan di masa lalu.

Perdana Menteri (PM) Mark Rutte yang akan mengakhiri masa jabatannya, sebelumnya menyebut periode perbudakan terlalu jauh ke belakang dan perdebatan soal permintaan maaf akan memicu ketegangan.

Lihat juga video 'Menlu Retno Minta Pemerintah Korsel Lindungi ABK WNI':

[Gambas:Video 20detik]



(zap/aik)