Amsterdam Minta Maaf Atas Perbudakan Termasuk di Indonesia

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 02 Jul 2021 12:04 WIB
Mayor Femke Halsema apologized for the involvement of the citys rulers in the slave trade during a nationally televised annual ceremony in Amsterdam, Netherlands, Thursday, July 1, 2021, marking the abolition of slavery in its colonies in Suriname and the Dutch Antilles on July 1, 1863. The anniversary is now known as Keti Koti, which means Chains Broken. Debate about Amsterdams involvement in the slave trade has been going on for years and gained attention last year amid the global reckoning with racial injustice that followed the death of George Floyd in Minneapolis last year. (AP Photo/Peter Dejong)
Wali Kota Amsterdam, Femke Halsema, meminta maaf atas peran kotanya dalam perbudakan di masa lalu (AP Photo/Peter Dejong)
Amsterdam -

Wali Kota Amsterdam di Belanda menyampaikan permohonan maaf atas peran kotanya dalam perdagangan budak yang memperkaya ibu kota Belanda ini pada era kolonialisme di masa lalu.

"Atas nama kota ini, saya meminta maaf atas keterlibatan aktif dewan kota Amsterdam dalam sistem komersial perbudakan kolonial dan perdagangan manusia global yang mengarah pada perbudakan," ucap Wali Kota Amsterdam, Femke Halsema, seperti dilansir AFP, Jumat (2/7/2021).

Di Belanda, seperti di negara-negara Eropa lainnya, perdebatan soal masa lalu kolonialisme dan peran dalam perbudakan mencuat setelah gerakan Black Lives Matter marak di Amerika Serikat (AS).

"Sudah waktunya untuk mengintegrasikan ketidakadilan besar dari perbudakan kolonial ke dalam identitas kota kita," ujar Halsema dalam pidato memperingati penghapusan perbudakan pada 1 Juli 1863 di Suriname dan Karibia yang menjadi bagian Kerajaan Belanda.

Pada puncak kerajaan kolonial, United Provinces yang kini dikenal sebagai Belanda memiliki wilayah penjajahan seperti Suriname, Pulau Curacao di Karibia, Afrika Selatan dan Indonesia, di mana Perusahaan Hindia Timur Belanda bermarkas pada abad ke-17 silam.

Halsema menyebut bahwa Provinsi Holland, yang mencakup Amsterdam, menjadi 'pemain utama dalam perdagangan dan eksploitasi budak-budak'. Dia menambahkan bahwa pada abad ke-18 sekitar '40 persen pertumbuhan ekonomi datang dari perbudakan'.

"Dan di Amsterdam, hampir semua orang mendapatkan uang berkat koloni Suriname," sebutnya, mengutip Dewan Kota yang merupakan co-owner dan co-administrator koloni.

Lihat juga video 'Menlu Retno Minta Pemerintah Korsel Lindungi ABK WNI':

[Gambas:Video 20detik]