Round-Up

Serangan Israel soal Program Nuklir Usai Raisi Jadi Presiden Baru Iran

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 20 Jun 2021 20:54 WIB
Ebrahim Raisi, a candidate in Irans presidential elections, casts his vote at a polling station in Tehran, Iran Friday, June 18, 2021. Iran began voting Friday in a presidential election tipped in the favor of a hard-line protege of Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei, fueling public apathy and sparking calls for a boycott in the Islamic Republic. (AP Photo/Ebrahim Noroozi)
Presiden terpilih Iran, Ebrahim Raisi (Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi)
Tel Aviv -

Kemenangan Presiden Iran yang baru, Ebrahim Raisi memicu sindiran dari Israel. Negara yang baru saja memilih Perdana Menteri baru tersebut menyerang Iran dengan tuduhan memicu keprihatian serius komunitas internasional.

Untuk diketahui bersama, sosok Raisi dikenal sebagai pribadi yang sangat berkomitmen pada perkembangan program nuklir Iran. Terlebih saat ini, Iran sedang dihadapkan dengan upaya kembali ke kesepakatan nuklir 2015 dengan sejumlah kekuatan dunia.

Israel memang jadi salah satu negara yang paling keras menentang nuklir Iran. Menurut negara pimpinan Naftali Bennett itu, Iran bisa kapan saja mengembangkan senjata nuklir jika kesepakatan kembali dicapai.

Israel: Iran Punya Niat Jahat

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Lior Haiat menuduh Raisi memiliki niat jahat. Ia pun menyerukan agar komunitas internasional menaruh perhatian khusus atas pengembangan nuklir Iran.

"Terpilihnya Raisi menggambarkan niat jahat Iran yang sebenarnya, dan seharusnya memicu keprihatinan serius di antara komunitas internasional", tulis Lior Haiat di Twitter seperti dilansir dari AFP, Minggu (20/6/2021).

"Iran telah memilih presidennya yang paling ekstremis hingga saat ini", lanjut Lior Haiat usai pemungutan suara berlangsung di Iran Jumat (18/6) lalu.

Tak hanya dari juru bicara Kemenlu Israel, serangan juga disampaikan Bennett yang baru saja dilantik. Menurutnya, upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu merupakan "kesalahan yang akan memberikan legitimasi kepada salah satu rezim paling gelap".