Round-Up

3 Hasil Pertemuan Perdana Biden dengan Putin di Jenewa

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 20:35 WIB
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin saling bertemu dan disambut Presiden Swiss, Guy Parmelin. Sebelum melakukan pertemuan kecil secara tertutup, Bidan dan Putin menyempatkan diri berjabat tangan.
Momen Biden dan Putin berjabat tangan (Screenshot/Associated Press)
Jenawa -

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Pertemuan itu dilakukan di Jenawa, Swiss.

Pertemuan yang diselenggarakan di sebuah vila elegan dengan di Jenewa pada Rabu (16/6) dilakukan dengan suasana baik. Dalam pertemuan itu, ada sejumlah fakta muncul.

1. Biden Ingatkan AS Tak Tolerir Campur Tangan Rusia

Biden mengaku, dalam pertemuan itu ada sejumlah perbedaan pendapat. Namun, perbedaan tersebut masih dapat ditolerir.

"Itu tidak dilakukan dalam suasana hiperbolis. Seperti itulah apa yang terjadi," ucap Biden kepada wartawan usai menghadiri pertemuan denganPutin di Jenewa, Swiss, seperti dilansir AFP, Kamis (17/6/2021).

Biden mengatakan protes paling utama menyangkut pada apa yang dikarakterisasikan sebagai aktivitas siber yang gigih dan agresif dari Rusia, terutama campur tangan dan intervensi pemilu yang diduga dilakukan oleh dinas keamanan Rusia atau peretas terkait Kremlin, kantor kepresidenan Rusia.

"Kita tidak akan mentoleransi upaya-upaya melanggar kedaulatan demokratik kita atau mendestabilisasi pemilu demokratis kita dan kita akan merespons," ucap Biden saat menuturkan apa yang diperjelasnya kepada Putin dalam pertemuan itu.

2. Putin Kecam AS Soal HAM Usai Pertemuan dengan Biden

Seperti dilansir Xinhua dan The Star, Kamis (17/6/2021), Putin mengatakan bahwa kedua belah pihak "berbeda dalam banyak hal tetapi menunjukkan kesediaan untuk saling memahami dan mencari cara untuk mendekatkan posisi." Dikatakannya, tatap muka penting, yang diadakan di Villa La Grange abad ke-18 di Jenewa tersebut "cukup konstruktif."

Kedua belah pihak setuju untuk mengizinkan duta besar mereka kembali ke Moskow dan Washington, dan untuk meluncurkan dialog stabilitas strategis untuk pengendalian senjata di masa depan dan langkah-langkah pengurangan risiko. Namun, Putin juga membantah kritik terhadap Rusia pada isu-isu seperti prediktabilitas kebijakan, hak asasi manusia dan keamanan siber.

"Barat percaya bahwa kebijakan Rusia tidak dapat diprediksi. Baiklah, izinkan saya menjawabnya. Penarikan AS dari Perjanjian ABM (Anti-Ballistic Missile/Rudal Anti-Balistik) pada tahun 2002 tidak dapat diprediksi," kata Putin kepada wartawan.

Sedangkan untuk masalah HAM, Putin mencontohkan gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat, serangan di Afghanistan, dan keberadaan penjara Teluk Guantanamo.

"Satu serangan saja bisa membunuh ... (sekitar) 120 orang. Baiklah, dengan asumsi ini adalah kesalahan yang terjadi dalam perang, tetapi menembak dari drone, (pada) kerumunan yang tidak bersenjata, jelas kerumunan sipil, apa ini? Bagaimana Anda menyebutnya? Dan siapa yang bertanggung jawab untuk ini?" kata Putin.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2