Pembangkit Nuklir China Diisukan Alami Kebocoran, Benarkah?

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 13:58 WIB
A years-long Chinese-French project, the Taishan plant opened in 2018 PETER PARKS AFP/File
Ilustrasi -- PLTN Taishan yang beroperasi sejak tahun 2018 merupakan proyek gabungan China dan Prancis (PETER PARKS AFP/File)

Operator PLTN itu, China General Nuclear Power Group (CGN) yang dimiliki pemerintah, menyatakan dalam pernyataannya pada Minggu (13/6) waktu setempat bahwa 'indikator lingkungan pada Pembangkit Tenaga Nuklir Taishan dan sekitarnya tergolong normal'.

CGN juga tidak menyebut adanya kebocoran atau insiden di PLTN tersebut, yang disebut telah memenuhi 'persyaratan aturan keamanan nuklir dan spesifikasi teknis pembangkit listrik'.

Secara terpisah, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang merupakan pemantau nuklir Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), menyatakan pihaknya telah menghubungi mitranya di China untuk menanyakan masalah tersebut.

"Pada tahap ini, badan tidak memiliki indikasi bahwa insiden radiologis telah terjadi," sebut IAEA dalam pernyataannya.

Mulai beroperasi tahun 2018, PLTN Taishan merupakan yang pertama di dunia yang mengoperasikan reaktor nuklir EPR generasi selanjutnya -- reaktor yang memiliki desain air bertekanan. Reaktor EPR yang memproduksi lebih sedikit limbah ini dibanggakan sebagai kemajuan menjanjikan dalam keamanan dan efisiensi jika dibandingkan reaktor konvensional.

Menurut data Otoritas Energi Nasional, pembangkit nuklir memasok kurang dari lima persen kebutuhan listrik tahunan China pada tahun 2019. Namun angka ini diperkirakan akan meningkat karena China berupaya netral karbon tahun 2060 mendatang.

China diketahui memiliki 47 pembangkit nuklir dengan total kapasitas 48,75 gigawatt -- merupakan tertinggi ketiga di dunia setelah AS dan Prancis -- dan telah menginvestasikan miliaran dolar AS untuk pengembangan sektor energi nuklirnya.


(nvc/ita)