Ancaman Budaya K-Pop Bagi Kim Jon Un dan Tafsir Panggilan 'Oppa'

Tim Detikcom - detikNews
Minggu, 13 Jun 2021 10:14 WIB

Selama berbulan-bulan, Kim melakukan kampanye peringatan tentang pengaruh budaya luar. Pada bulan Februari, Kim memerintahkan semua provinsi, kota dan kabupaten untuk "tanpa ampun" membasmi kecenderungan kapitalis yang berkembang.

Pada bulan April, dia memperingatkan bahwa "perubahan serius" sedang terjadi dalam "keadaan ideologis dan mental" anak muda Korea Utara. Bahkan pada bulan Mei, surat kabar yang dikelola pemerintah, Rodong Sinmun, memperingatkan bahwa Korea Utara akan "hancur" jika pengaruh K-Pop terus berkembang.

"Bagi Kim Jong-un, invasi budaya dari Korea Selatan telah melampaui tingkat yang dapat ditoleransi," kata Jiro Ishimaru, pemimpin redaksi Asia Press International, sebuah situs web di Jepang yang memantau Korea Utara. "Jika ini dibiarkan, dia khawatir rakyatnya akan mulai mempertimbangkan Korea Selatan sebagai alternatif Korea untuk menggantikan Utara.

Ini bukan pertama kalinya Korea Utara mengecam "invasi ideologis dan budaya." Sebelumnya, semua radio dan televisi disetel untuk menerima siaran pemerintah saja.

Pemerintah Korut memblokir rakyatnya untuk mengakses internet global. Pasukan disiplin berpatroli di jalan-jalan, menghentikan pria berambut panjang dan wanita dengan rok yang dianggap terlalu pendek atau celana yang dianggap terlalu ketat. Bahkan menurut Kedutaan Besar Rusia di Pyongyang, satu-satunya pewarna rambut yang tersedia di Korut hanya warna hitam.


(izt/gbr)