Menlu AS Sebut Iran Bisa Bikin Bom Nuklir dalam Hitungan Minggu

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 08 Jun 2021 12:07 WIB
US Secretary of State Antony Blinken speaks about US leadership in fighting the global coronavirus disease (COVID-19) pandemic during an event at the State Department in Washington, DC on April 5, 2021. (Photo by ALEXANDER DRAGO / POOL / AFP)
Menlu AS, Antony Blinken (dok. AFP/ALEXANDER DRAGO)

Itu berarti hanya tersisa delapan hari untuk menyelamatkan JCPOA sebelum Iran menggelar pilpres pada 18 Juni, yang diprediksi akan menghadirkan pemimpin baru yang beraliran garis keras.

Sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk juga khawatir jika pembicaraan yang digelar hanya membahas program nuklir Iran, dan gagal membahas perkembangan rudal balistik Iran serta upaya campur tangan melalui proxy milisi di Irak, Yaman dan zona konflik lainnya.

Pada Februari lalu, Iran menangguhkan sejumlah inspeksi situs nuklir oleh pemantau nuklir Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau Badan Energi Atom Internasional (IAEA). IAEA mencapai kesepakatan tiga bulan yang memungkinkannya melanjutkan inspeksi namun dengan akses yang dikurangi.

Pada Mei lalu, batasan itu diperpanjang hingga 24 Juni. Namun awal pekan ini, kepala IAEA, Rafael Grossi, menyatakan semakin sulit untuk kembali memperpanjang batasan waktu itu.

"Saya bisa melihat ruang ini menyempit. Saya harap kita tidak akan melihat kapasitas inspeksi kita dibatasi lagi. Kita tidak bisa membatasi dan melanjutkan pembatasan kemampuan para pemeriksa untuk menginspeksi dan pada saat bersamaan berpura-pura bahwa ada kepercayaan," ujarnya.

"Di sinilah semuanya yang Anda lakukan dengan negara manapun saling terhubung. Bagi saya, jalur menuju kepercayaan melalui informasi, klarifikasi, inspeksi dan transparansi penuh. Kita mendapati sebuah negara yang memiliki program nuklir yang sangat maju dan ambisius, yang melakukan pengayaan di level sangat tinggi ... sangat dekat dengan level senjata," tandas Grossi.


(nvc/ita)