Bentrok Pedemo Vs Polisi di Kolombia, 17 Orang Tewas-800 Lebih Terluka

Haris Fadhil - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 23:55 WIB
Demostrators make a vigil for fellow demonstrators who died, disappeared or were wounded in the past days protests against a tax reform bill launched by President Ivan Duque in Cali, Colombia, on May 2, 2021. - Colombian President Ivan Duque asked the parliament to withdraw a tax reform bill that triggered four consecutive days of protests and riots and announced he will propose a new tax bill reform soon to the congress. (Photo by Luis ROBAYO / AFP)
Demo di Kolombia (Foto: AFP/LUIS ROBAYO)
Bogota -

Bentrokan terjadi antara massa aksi protes reformasi pajak dengan aparat keamanan di Kolombia. Sedikitnya, 17 orang tewas dan 800 orang lainnya terluka akibat bentrokan itu.

Dilansir dari AFP, Senin (3/5/2021), kantor Ombudsman setempat mengatakan 16 warga sipil dan satu petugas polisi tewas dalam kekerasan selama protes yang dimulai di seluruh negeri pada 28 April lalu. Sementara 846 orang, termasuk 306 warga sipil, terluka.

Pihak berwenang telah menahan 431 orang. Sementara, pemerintah mengerahkan militer di kota-kota yang terkena dampak paling parah. Beberapa LSM menuduh polisi menembaki warga sipil.

Menteri Pertahanan Kolombia, Diego Molano, mengklaim kekerasan itu direncanakan, diorganisir, dibiayai oleh para pembangkang dari FARC dan anggota ELN.

FARC merupakan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia yang dianggap sebagai pemberontak kiri. Mereka telah menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah pada tahun 2016, yang mengakhiri lebih dari setengah abad konflik.

Perjanjian itu meninggalkan ELN yang merupakan Tentara Pembebasan Nasional sebagai kelompok gerilyawan terakhir yang diakui di negara itu.

Pemerintah Presiden Ivan Duque telah memerintahkan proposal reformasi pajak ditarik dari Kongres pada hari Minggu kemarin. Meski demikian, puluhan orang tetap berdemo di Bogota, ibu kota Kolombia, hari ini. Mereka memprotes dan memblokir jalan.

Reformasi pajak telah banyak dikritik karena menghukum kelas menengah pada saat krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus Corona. Pemerintah memperkenalkan RUU pada 15 April sebagai cara untuk membiayai pengeluaran publik.

Tujuannya adalah untuk menghasilkan USD 6,3 miliar antara 2022 dan 2031 untuk menghidupkan kembali ekonomi terbesar keempat di Amerika Latin. Pembatasan yang dipicu merebaknya virus Corona membuat ekonomi Kolombia menyusut 6,8 persen pada 2020 yang merupakan kinerja terburuknya dalam setengah abad.

Pengangguran telah mencapai 16,8 persen di bulan Maret sementara 42,5 persen dari 50 juta penduduk sekarang hidup dalam kemiskinan. Sebagian besar protes dimulai dengan damai tetapi berubah menjadi bentrokan antara demonstran dan pasukan publik.

Pada hari Minggu, Duque mengatakan dia akan menyusun RUU baru tanpa poin yang paling diperdebatkan, yakni kenaikan PPN barang dan jasa dan perluasan basis pembayar pajak.

(haf/zak)