Menlu Filipina Lontarkan Komentar Sumpah Serapah untuk China

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 14:55 WIB
In this March 7, 2021, photo provided by the Philippine Coast Guard/National Task Force-West Philippine Sea, some of the 220 Chinese vessels are seen moored at Whitsun Reef, South China Sea. The Philippine government expressed concern after spotting more than 200 Chinese fishing vessels it believed were crewed by militias at a reef claimed by both countries in the South China Sea, but it did not immediately lodge a protest. (Philippine Coast Guard/National Task Force-West Philippine Sea via AP)
Kapal-kapal China di perairan sengketa di Laut China Selatan yang diprotes Filipina (dok. Philippine Coast Guard/National Task Force-West Philippine Sea via AP)
Manila -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Filipina, Teodoro Locsin, melontarkan komentar berisi sumpah serapah yang meminta kapal-kapal China meninggalkan perairan Laut China Selatan yang menjadi sengketa. Ini menjadi perang kata-kata terbaru antara Filipina dan China terkait aktivitas di Laut China selatan.

Seperti dilansir Reuters, Senin (2/5/2021), komentar Locsin itu dilontarkan setelah Filipina melayangkan protes terkait apa yang disebut sebagai kehadiran 'ilegal' ratusan kapal China di dalam Zona Ekonomi Eksklusif Filipina (ZEE).

"China, kawan saya, bagaimana saya menyampaikannya secara sopan? Coba saya lihat... O... GET THE F**K OUT," tulis Locsin dalam akun Twitter pribadinya, dengan menggunakan kata sumpah serapah. Locsin selama ini dikenal kerap melontarkan komentar keras.

"Apa yang Anda lakukan terhadap persahabatan kita? Anda. Bukan kami. Kami mencoba. Anda. Anda seperti orang bodoh yang memaksakan perhatian Anda pada seorang pria tampan yang ingin menjadi teman; bukan menjadi ayah dari sebuah provinsi China..." imbuhnya menggunakan perumpamaan.

Kedutaan Besar China di Manila belum memberikan komentarnya. Para pejabat China sebelumnya menyebut kapal-kapal yang berada di Whitsun Reef yang menjadi sengketa merupakan kapal-kapal penangkap ikan yang berlindung dari kondisi lautan yang ganas.

China mengklaim nyaris seluruh perairan Laut China Selatan, yang menjadi sengketa dengan beberapa negara lainnya, termasuk Filipina. Tahun 2016 lalu, putusan mahkamah arbitrase di Den Haag memutuskan klaim China, yang didasarkan pada peta lama itu, tidak konsisten dengan hukum internasional.

Dalam pernyataan pada Senin (3/5) waktu setempat, Kementerian Luar Negeri Filipina menuduh penjaga pantai China 'membayangi, memblokir, melakukan manuver berbahaya dan tantangan radio kapal-kapal penjaga pantai Filipina'. Otoritas Filipina meyakini kapal-kapal China diawaki para milisi.

Tonton juga Video: Blak-blakan Laksda (Purn) Frans Wuwung: Manuver Nanggala Bikin Gentar Australia-Filipina

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2