7 Demonstran Tewas Usai Pasukan Keamanan Myanmar Lepaskan Tembakan

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 20:30 WIB
Anti-coup protesters holding pictures of those who died during a protest against the military offer prayers for them, in Yangon, Myanmar, Monday, April 5, 2021. Threats of lethal violence and arrests of protesters have failed to suppress daily demonstrations across Myanmar demanding the military step down and reinstate the democratically elected government. (AP Photo)
Foto: Ilustrasi (AP Photo)
Yangon -

Pasukan keamanan Myanmar melepaskan tembakan ke arah aksi protes terhadap pemerintahan militer. Setidaknya tujuh orang dilaporkan tewas dari penembakan yang dilakukan pasukan keamanan Myanmar.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (2/5/2021), aksi protes digelar usai periode kerumunan yang mulai berkurang. Aksi demonstrasi dikoordinasikan komunitas Myanmar di seluruh dunia untuk menandai apa yang oleh penyelenggara disebut 'revolusi musim semi global Myanmar'.

"Guncang dunia dengan suara persatuan rakyat Myanmar," kata penyelenggara dalam sebuah pernyataan.

Aksi demonstran dipimpin oleh sejumlah biksu Buddha, berjalan melalui kota-kota di seluruh Myanmar, termasuk pusat komersial Yangon dan kota kedua Mandalay, di mana dua orang ditembak dan dibunuh, kata kantor berita Mizzima melaporkan.

Situs berita Irrawaddy sebelumnya memposting foto seorang pria yang dikatakan sebagai petugas keamanan berpakaian preman membidik dengan senapan di Mandalay.

Dua orang tewas di pusat kota Wetlet, kata kantor berita Myanmar Now, dan dua orang tewas di berbagai kota di negara bagian Shan, dua media melaporkan. Satu orang juga tewas di kota pertambangan Hpakant, kata Grup Berita Kachin melaporkan.

Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut dan juru bicara junta yang berkuasa tidak menjawab panggilan untuk memberikan komentar.

Aksi protes salah satu masalah yang dibawa para jenderal junta militer penggulingan 1 Februari dari pemerintah terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.

Menurut perkiraan PBB, perang dengan pemberontak etnis minoritas di daerah perbatasan terpencil di utara dan timur telah meningkat secara signifikan sejak kudeta, serta menggusur puluhan ribu warga sipil.

Di beberapa tempat warga sipil dengan senjata telah bertempur dengan pasukan keamanan, sementara di daerah pusat fasilitas militer dan pemerintah yang telah aman selama beberapa generasi telah dilanda serangan roket dan gelombang ledakan kecil yang tidak dapat dijelaskan. Belum ada yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

(rfs/gbr)