Round-Up

Nada Damai Pangeran Saudi saat Bicara Hubungan dengan Iran

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 28 Apr 2021 23:09 WIB
Tiga perang Arab Saudi yang tidak akan dimenangkan oleh Mohammed bin Salman
Pangeran Mohammed Bin Salman (BBC World)
Jakarta -

Selama ini, hubungan Arab Saudi dan Iran selalu tegang. Pada 2016, Saudi memutuskan hubungan diplomatik. Kini, ada nada damai terdengar dari Pangeran Saudi mengenai hubungan dengan Iran.

Putusnya hubungan Saudi dan Iran berawal dari eksekusi mati seorang ulama Syiah terkemuka, Nimr al-Nimr (56) atas dakwaan terorisme, 2 Januari 2016. Warga Iran tidak terima. Kedutaan Saudi di Teheran Iran diserbu dan dilempari bom molotov.

4 Januari 2016, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengumumkan negaranya memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Seluruh diplomat Saudi di Iran diperintahkannya segera cabut dalam waktu 48 jam.

Insert ketegangan Arab Saudi dan Iran.Insert ketegangan Arab Saudi dan Iran. Foto: detikcom/Andhika Akbarayansyah

Sebenarnya, jauh sebelum insiden 2016, Saudi dan Iran memang tidak pernah akur. Tahun 1987, kebencian Iran ke Saudi menyeruak usai terjadi tragedi di Makkah Saudi, yakni saat 402 jemaah haji tewas, sebanyak 275 orang di antaranya berasal dari Iran.

Dua negara bertetangga itu senantiasa tercitra berseberangan. Iran berbudaya dan bahasa dominan Persia, mayoritas menganut Syiah, mendukung Bashar Al Assad di Suriah, mendukung Syiah Houthi di Yaman, dan anti-Amerika Serikat.

Sebaliknya, Saudi beretnis dan berbahasa Arab, dominan menganut Sunni, menentang Bashar Al Assad, memerangi Syiah Houthi di Yaman, dan bersekutu dengan Amerika Serikat.

Dilansir AFP, Rabu (28/4/2021), Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman (MBS) menyampaikan pernyataan bernada damai saat berbicara soal Iran. Dia mengaku ingin punya hubungan baik dengan Iran.

Selanjutnya, pembicaraan rahasia Saudi dan Iran: