India Minta Twitter Hapus Cuitan yang Kritik Penanganan Corona

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 25 Apr 2021 12:52 WIB
Jakarta -

Pemerintah India meminta platform media sosial Twitter untuk menghapus lusinan tweet yang mengkritik penanganan COVID-19 India usai mencatatkan rekor kasus dunia.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (25/4/2021) Twitter telah menahan beberapa tweet setelah pemerintah India melakukan permintaan hukum terkait kritikan di media sosial tersebut.

"Pemerintah membuat perintah darurat untuk menyensor tweet" ungkap Twitter di database Lumen, sebuah proyek Universitas Harvard.

Dalam permintaan tertanggal 23 April dan diungkapkan di Lumen, ada 21 tweet yang diminta untuk dihapus. Diantaranya adalah tweet dari seorang anggota parlemen bernama Revnath Reddy, seorang menteri di negara bagian Benggala Barat bernama Moloy Ghatak dan seorang pembuat film bernama Avinash Das.

Pemerintah India mengutip Undang-Undang Teknologi Informasi tahun 2000 terkait permintaan tersebut.

"Saat kami menerima permintaan hukum yang sah, kami meninjaunya berdasarkan Peraturan Twitter dan hukum setempat," kata juru bicara Twitter dalam pernyataan yang dikirim melalui email.

"Jika konten melanggar aturan Twitter, konten tersebut akan dihapus dari layanan. Jika ditetapkan ilegal di yurisdiksi tertentu tetapi tidak melanggar Aturan Twitter, kami dapat menahan akses ke konten tersebut hanya di India saja," lanjutnya.

Juru bicara itu mengonfirmasi bahwa Twitter telah memberi tahu pemegang akun secara langsung tentang penahanan konten dan memberi tahu mereka bahwa pihaknya menerima perintah hukum yang berkaitan.

Perkembangan tersebut dilaporkan sebelumnya oleh situs berita teknologi TechCrunch, yang mengatakan bahwa Twitter bukan satu-satunya platform yang terpengaruh oleh permintaan pemerintah tersebut.

Sementara itu, sejumlah rumah sakit di India kewalahan dan meminta pasokan oksigen untuk segera dikirimkan. India mengalami tsunami COVID-19 usai memecahkan rekor kasus dunia selama tiga hari berturut-turut.

Disebutkan satu kematian terjadi setiap 4 menit di New Delhi usai sistem kesehatan di ibukota India tersebut kolaps.

Kementerian Kesehatan India mengatakan, angka kasus harian per Sabtu (25/4) mencapai 346.786 kasus, dan menambah total 16,6 juta kasus. Sementara itu, kasus kematian harian naik menjadi 2.624, menjadi total 189.544 kasus sejak pandemi COVID-19 India.

Sebelumnya India sempat melonggarkan pembatasan dan mengadakan sejumlah pertemuan besar, termasuk festival besar dan kampanye politik sehingga memicu gelombang kedua COVID-19 di negara tersebut.

(izt/imk)