Pembunuh Wanita Yahudi Tak Diadili, Macron Serukan Ubah Hukum Prancis

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 16:37 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron
Presiden Prancis Emmanuel Macron (dok. AP Photo/Thibault Camus)
Paris -

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyerukan perubahan dalam hukum setelah seorang pria yang membunuh seorang wanita Yahudi tahun 2017 lalu, terhindar dari persidangan dengan alasan bertindak saat mengalami delirium akibat mengonsumsi narkoba.

Seperti dilansir AFP, Senin (19/4/2021), komunitas Yahudi di Prancis marah atas putusan pengadilan tinggi Prancis pada Rabu (14/4) lalu yang menyatakan seorang pria bernama Kobili Traore (27) tidak bertanggung jawab secara pidana atas pembunuhan seorang wanita Yahudi bernama Sarah Halimi (65).

Halimi meninggal tahun 2017 lalu setelah didorong keluar jendela apartemennya oleh Traore, yang merupakan tetangganya. Disebutkan bahwa saat itu Traore sempat berteriak 'Allahu Akbar'.

Traore yang seorang perokok ganja berat, menjalani perawatan kejiwaan sejak Halimi tewas dan dia tetap berada di fasilitas kejiwaan setelah putusan pengadilan dijatuhkan.

Pengadilan tinggi Prancis menyatakan Traore mengalami 'delirious fit' atau situasi delirium, dan dengan demikian, tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Delirium merupakan gangguan mental yang ditandai oleh ilusi, halusinasi, ketegangan otak dan kegelisahan fisik.

Macron dalam wawancara dengan media terkemuka Prancis, Le Figaro, tidak sepakat dengan putusan pengadilan tersebut.

"Memutuskan untuk menggunakan narkotik dan kemudian 'menjadi gila' tidak seharusnya, dalam pandangan saya, menghapuskan tanggung jawab pidana Anda," cetus Macron dalam wawancara tersebut.

Selanjutnya
Halaman
1 2