International Updates

Pemimpin Ikhwanul Muslimin Dibui Seumur Hidup, China Ancam AS

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 16:16 WIB
Pemimpin Tertinggi Sementara Ikhwanul Muslimin, Mahmut Ezzat (AFP Photo)
Foto: Pemimpin Tertinggi Sementara Ikhwanul Muslimin, Mahmut Ezzat (AFP Photo)
Jakarta -

Pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup pada Mahmud Ezzat, pemimpin tertinggi kelompok Ikhwanul Muslimin yang telah dilarang. Vonis dijatuhkan setelah dia dinyatakan bersalah melakukan "terorisme", demikian surat kabar milik pemerintah Al-Ahram melaporkan.

"Pengadilan Kriminal Kairo pada Kamis (8/4) menghukum Mahmud Ezzat, pemimpin tertinggi sementara Ikhwanul Muslimin yang dinyatakan sebagai teroris, dengan penjara seumur hidup atas tuduhan pembunuhan dan terorisme," menurut surat kabar itu seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (9/4/2021).

Ezzat ditangkap pada Agustus 2020 di Kairo, setelah melarikan diri selama beberapa tahun.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Jumat (9/4/2021):

- Panggil Dubes, Turki Minta PM Italia Cabut Komentar Erdogan 'Diktator'

Perselisihan terkait komentar kontroversial Perdana Menteri (PM) Italia, Mario Draghi, yang menyebut Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sebagai 'diktator' terus berlanjut. Tidak hanya mengecam PM Draghi, otoritas Turki juga memanggil Duta Besar Italia di Ankara untuk menyampaikan protes.

Seperti dilansir Anadolu News Agency dan Daily Sabah, Jumat (9/4/2021), Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Dubes Italia di Ankara, Massimo Gaiani, untuk menyampaikan protes dan kecaman terhadap komentar PM Draghi tersebut. Dubes Gaiani telah bertugas sebagai Dubes Italia di Turki sejak Januari 2019 lalu.

Wakil Menteri Luar Negeri Turki, Faruk Kaymakci, menyatakan bahwa Dubes Gaiani dipanggil untuk datang ke kantor Kementerian Luar Negeri Turki pada Kamis (8/4) waktu setempat.

Menurut Kaymakci, dalam pemanggilan itu, sang Dubes Italia diberitahu bahwa Turki mengecam komentar PM Draghi soal Erdogan, yang disebut menjadi Presiden Turki dengan menerima dukungan tertinggi rakyatnya di Eropa.

- Didepak Junta Militer, Dubes Myanmar Minta Bantuan Internasional

Duta Besar (Dubes) Myanmar untuk Inggris yang didepak junta militer Myanmar dari Kedutaan Besar di London, menyerukan kepada masyarakat internasional untuk membantu negaranya.

Seruan ini disampaikan setelah pemerintah Inggris mengonfirmasi bahwa pihaknya tak bisa lagi mengakui Kyaw Zwar Minn sebagai Dubes Myanmar karena telah dipecat junta militer.

"Tolong bantu negara kami karena tanpa bantuan internasional kami tidak akan bisa keluar dari kekacauan ini," kata Kyaw Zwar Minn kepada wartawan di luar kedutaan di pusat kota London seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (9/4/2021).

Aksi protes harian di Myanmar menuntut kembalinya demokrasi setelah kudeta militer pada Februari lalu, telah mengguncang negara itu. Militer Myanmar menanggapi aksi-aksi protes antikudeta itu dengan tindakan keras yang menyebabkan hampir 600 warga sipil tewas menurut kelompok pemantau lokal.

Kyaw Zwar Minn mengungkapkan kemungkinan dia bisa mati jika dia kembali ke Myanmar. Saat ditanya apakah dia akan dibunuh jika kembali seperti yang diminta oleh pimpinan militer, dia berkata: "Siapa yang tahu?"

- AS Imbau Warganya di RI Tingkatkan Kewaspadaan Usai Bom Makassar

Otoritas Amerika Serikat (AS) merilis imbauan keamanan untuk setiap warga negaranya yang ada di wilayah Indonesia. Imbauan dirilis setelah terjadi dua serangan teroris di Makassar dan di Mabes Polri Jakarta beberapa waktu lalu.

Selanjutnya
Halaman
1 2