Filipina Beri Lampu Hijau Vaksin Sputnik V, Jadi Negara ke-52 di Dunia

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 17:14 WIB
(FILES) In this file photo taken on March 10, 2021 workers unload a container from a plane of Aeromexico airline carrying the second shipment of the Sputnik V vaccines against COVID-19 of Russian laboratory Gamalei, upon their arrival at the Benito Juarez International Airport in Mexico City. - Mexico seized on March 18, 2021 a shipment of alleged Sputnik V vaccines against covid-19 from a private plane with Honduras as destination, even though Russian authorities assure the doses would be fake. (Photo by PEDRO PARDO / AFP)
Vaksin Sputnik V (Foto: AFP/PEDRO PARDO)
Moskow -

Pengembang vaksin virus Corona Sputnik V Rusia mengatakan bahwa vaksinnya telah disetujui untuk digunakan di Filipina. Dengan ini, Filipina menjadi negara ke-52 yang memberi lampu hijau pada vaksin buatan Rusia itu.

Seperti dilansir AFP, Jumat (19/3/2021) Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), yang mendukung pengembangan Sputnik V, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa vaksin itu telah terdaftar "di bawah prosedur otorisasi penggunaan darurat."

Diketahui, pada minggu ini Filipina mengumumkan rencananya untuk menutup perbatasannya bagi orang asing mulai 20 Maret dan membatasi masuknya warga negaranya sendiri untuk menghentikan penyebaran kasus baru. Tindakan sementara itu dilakukan setelah jumlah kasus harian mencapai level tertinggi selama tujuh bulan terakhir pada awal pekan ini.

RDIF mengatakan Filipina kini menjadi negara ke 52 yang menyetujui penggunaan vaksin Sputnik V.

Kirill Dmitriev, CEO RDIF, mengatakan dalam pernyataannya bahwa Filipina adalah "di antara yang pertama menunjukkan minat pada vaksin Sputnik setelah didaftarkan di Rusia".

Dia menambahkan bahwa persetujuan Sputnik V memberi Filipina "akses ke salah satu vaksin terbaik, yang telah menyelamatkan nyawa di seluruh dunia."

Moskow mendaftarkan vaksin tersebut pada Agustus 2020 lalu sebelum uji klinis skala besar, tetapi jurnal medis terkemuka The Lancet sejak itu mengatakan sputnik V aman dan lebih dari 90 persen efektif.

Beberapa negara Barat telah mewaspadai Sputnik V - dinamai menurut satelit era Uni Soviet - karena khawatir Kremlin akan menggunakannya sebagai alat soft power untuk memajukan kepentingannya.

Simak juga video 'Soal AstraZeneca, WHO: Manfaat Lebih Besar Dibanding Risikonya':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/ita)