Ledakan Dahsyat di Barak Militer Guinea, Korban Tewas Jadi 20-600 Luka

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 11:29 WIB
Ledakan Guinea
Ledakan di kamp militer Guinea (Foto: TVGE via AP)
Jakarta -

Serangkaian ledakan dahsyat yang terjadi di barak militer di Guinea Ekuatorial memakan jumlah korban jiwa dan luka-luka yang banyak. Pihak berwenang mengatakan sejauh ini sedikitnya 20 orang tewas dan lebih dari 600 lainnya luka-luka.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (8/3/2021) Presiden Teodoro Obiang Nguema mengatakan ledakan yang terjadi pada Minggu (7/3) sekitar pukul 16.00 waktu setempat itu disebabkan karena "kelalaian penanganan alat peledak" di barak militer yang terletak di kawasan Mondong Nkuantoma, kota Bata.

"Dampak ledakan tersebut menyebabkan kerusakan di hampir semua rumah dan bangunan di Bata," kata Presiden dalam keterangannya dalam bahasa Spanyol.

Pada Minggu (7/3) malam waktu setempat, Kementerian Pertahanan merilis pernyataan bahwa kebakaran terjadi di gudang senjata di barak militer sehingga menyebabkan ledakan amunisi kaliber tinggi. Dikatakan jumlah korban tewas sementara adalah 20, pihaknya juga akan menyelidiki penyebab ledakan segera.

Sementara itu, presiden Guinea Khatulistiwa mengatakan kebakaran mungkin terjadi karena penduduk membakar ladang di sekitar barak.

Dalam tayangan televisi pemerintah, terlihat gumpalan asap mengepul di atas lokasi ledakan saat kerumunan orang melarikan diri. Banyak orang mengaku "kami tidak tahu apa yang terjadi, tetapi semuanya hancur."

Sebuah gambar yang dilihat AP menunjukkan orang-orang berteriak dan menangis berlarian di tengah puing-puing dan asap. Atap rumah mereka rusak dan orang yang terluka dibawa ke rumah sakit.

Guinea, sebuah negara di Afrika dengan penduduk 1,3 juta orang yang terletak di selatan Kamerun, adalah koloni Spanyol sampai memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1968. Wilayah Bata berpenduduk sekitar 175.000 jiwa.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan telah men-tweet bahwa 17 orang tewas. Mereka meminta donor darah dan tenaga kesehatan sukarela untuk pergi ke Rumah Sakit Daerah de Bata, salah satu dari tiga rumah sakit yang merawat korban luka.

Selanjutnya
Halaman
1 2