Round-Up

Demo Antikudeta di Myanmar yang Kian Hari Kian Gahar

Tim detikcom - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 04:58 WIB
People attend the funeral procession for protester Kyal Sin, in Mandalay on March 4, 2021, a day after she was shot in the head while taking part in a demonstration against the military coup. (Photo by STR / AFP)
Demonstrasi di Myanmar (Foto: AFP/STR)
Jakarta -

Demonstrasi antikudeta di Myanmar kian hari kian gahar. Jumlah pendemo dan aksi kekerasan yang semakin meningkat bahkan membuat puluhan warga kabur ke India.

Dilansir dari AFP, Minggu (7/3/2021), puluhan warga Myanmar sedang antre di wilayah perbatasan India. Mereka menunggu giliran agar bisa bergabung dengan sekitar 50 warga Myanmar yang sudah lebih dulu melintasi perbatasan usai kondisi Myanmar semakin mencekam.

Otoritas Myanmar juga telah meminta India untuk mengirim kembali delapan polisi yang melarikan diri dari negaranya pada minggu ini.

"Empat puluh delapan warga Myanmar, termasuk delapan polisi, telah memasuki negara bagian Mizoram di timur laut India," kata seorang perwira senior di pasukan paramiliter Assam Rifles kepada AFP.

"Sedikitnya 85 warga sipil dari Myanmar telah menunggu di perbatasan internasional untuk memasuki India," pejabat itu menambahkan tanpa menyebut nama.

Demonstrasi antikudeta pecah di seluruh Myanmar sejak militer melakukan kudeta 1 Februari 2021 yang menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Pasukan keamanan kemudian meningkatkan tindakan keras terhadap pengunjuk rasa dan menyebabkan puluhan pendemo tewas.

Media India melaporkan orang-orang yang melintasi perbatasan terdiri dari warga sipil, polisi hingga pejabat lokal. Mereka kabur karena menolak mematuhi perintah junta militer. Otoritas Myanmar juga telah menyurati otoritas India agar memulangkan para polisi yang kabur. Surat itu dikirim ke pejabat di distrik Champhai Mizoram di mana beberapa pengungsi berada.

"Untuk menjaga hubungan persahabatan antara kedua negara tetangga, Anda dengan hormat diminta untuk menahan delapan personel polisi Myanmar yang telah tiba di wilayah India dan diserahkan ke Myanmar," demikian isi surat tersebut.

Pejabat di pemerintahan India menyebut surat dari otoritas Myanmar itu sedang dipelajari. Pihak India, yang berusaha membangun hubungan lebih dekat dengan Myanmar untuk melawan pengaruh China, diketahui tidak mengutuk kudeta di Myanmar.

Namun, Duta Besar India untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), TS Tirumurti, mengatakan pencapaian demokrasi Myanmar dalam beberapa tahun terakhir 'tidak boleh dirusak'. India diketahui berbagi perbatasan darat sepanjang 1.643 Km dengan wilayah Myanmar.

India sendiri telah menjadi lokasi pelarian bagi ribuan pengungsi dari Myanmar, termasuk etnis Chin dan etnis Rohingya yang melarikan diri dari operasi militer Myanmar yang sarat kekerasan. Secara terpisah, pemimpin komunitas etnis Chin di New Delhi menyebut polisi Myanmar sangat jarang kabur ke India.

"Ini sesuatu yang tidak biasa. Karena di masa lalu, polisi dan militer hanya mematuhi perintah," ucap Presiden Komisi Pengungsi China di India, James Fanai.

Ratusan Polisi Membelot, Gabung ke Demonstran

600 orang polisi dikabarkan bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil Myanmar (CDM) untuk melawan rezim junta militer. Hanya Negara Bagian Rakhine yang melaporkan tidak ada aksi protes dari petugas.

Dilansir dari kantor berita The Irrawaddy, Minggu (7/3/2021) jumlah polisi mengundurkan diri meningkat tajam sejak terjadi kekerasan pada akhir Februari. Seorang petugas di Naypyitaw mengatakan polisi dari Departemen Investigasi Kriminal, Cabang Khusus, Polisi Keamanan Turis, Polisi Keamanan dan bagian pelatihan telah meninggalkan tugas mereka untuk melawan rezim militer.

Simak video 'PBB: Sudah 50 Pedemo Tewas Sejak Kudeta Myanmar':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2