Aksi Heroik Suster Berlutut Depan Militer Myanmar Viral, Begini Ceritanya

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 07 Mar 2021 16:56 WIB
A Catholic nun from Myanmar clasps her hands in prayer at St. Francis of Assisi Catholic Church in Yangon on November 28, 2017, a day after the arrival of Pope Francis. - The 80-year-old pontiff, the first to travel to Myanmar, was welcomed at the airport by children from different minority groups in bright, bejewelled clothes, who gave him flowers and received a papal embrace in return. (Photo by LILLIAN SUWANRUMPHA / AFP)
Ilustrasi (Foto: AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA)
Myitkyina -

Aksi heroik seorang suster di Myanmar menjadi sorotan di tengah-tengah meningkatnya kekerasan. Suster bernama Ann Roza Nu Tawng rela berlutut di depan pasukan keamanan bersenjata di Myitkyina, Negara Bagian Kachin, Myanmar untuk menghentikan mereka menembaki warga sipil.

Seperti dilansir Sky News, Minggu (7/3/2021) Ann terlihat memohon kepada para polisi dan tentara untuk tidak menembak para pendemo dan mengatakan dirinya siap mati untuk menyelamatkan nyawa warga Myanmar. Intervensi tersebut disebut sebagai 'momen Tiananmen' Myanmar.

Dalam rekaman yang dirilis pada 28 Februari lalu, sebuah tembakan terdengar setelah seorang suster terlihat berjalan menuju petugas keamanan. Wanita berusia 45 tahun itu mengatakan kepada Sky News bahwa dia pikir dia akan mati tetapi siap mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan orang lain.

Begini kisah kesaksian Ann saat aksi heroiknya itu ramai jadi perbincangan publik:

Pada hari Minggu (28/2), Ann yang berada di klinik melihat sekelompok orang berbaris untuk melakukan protes antikudeta. Tak berapa lama, dirinya melihat polisi, militer dan meriam air mengikuti para pengunjuk rasa.

Kemudian mereka melepaskan tembakan dan mulai memukuli para pengunjuk rasa. Suster yang menyaksikan kekerasan itu terkejut dan berlari menuju ke depan kliniknya.

"Saya meminta dan memohon kepada mereka untuk tidak melakukannya dan saya mengatakan kepada mereka bahwa para pengunjuk rasa tidak melakukan (kejahatan) apa pun," cerita Ann.

"Saya pikir akan lebih baik saya mati daripada banyak orang," imbuhnya sambil menceritakan dirinya sampai menangis tersedu-sedu untuk membantu pendemo Myanmar bisa melarikan diri dan menghentikan pasukan keamanan.

Selanjutnya
Halaman
1 2