Puluhan Orang Tewas dalam Kerusuhan di Perbatasan Iran-Pakistan

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 19:24 WIB
A shot is fired by Canadas Zina Kocher as she competes in the Womens Biathlon 4x6 km Relay at the Laura Cross-Country Ski and Biathlon Center during the Sochi Winter Olympics on February 21, 2014, in Rosa Khutor, near Sochi.  AFP PHOTO / KIRILL KUDRYAVTSEV        (Photo credit should read KIRILL KUDRYAVTSEV/AFP/Getty Images)
ilustrasi (Foto: AFP)
Jenewa -

Puluhan orang dilaporkan tewas dalam kerusuhan di Provinsi Sistan-Baluchistan, Iran, yang terletak di dekat perbatasan Pakistan. Garda Revolusi Iran dan pasukan keamanan Iran disebut menggunakan kekuatan mematikan terhadap penyelundup bahan bakar dan para demonstran di perbatasan.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (5/3/2021), Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyampaikan kecaman untuk pembunuhan brutal itu dalam konferensi pers terbaru di Jenewa, Swiss.

Sepekan lalu, otoritas Iran menyatakan tengah menyelidiki insiden ditembak matinya dua warga Iran di perbatasan dengan Pakistan. Disebutkan Kementerian Luar Negeri Iran bahwa otoritas Pakistan telah menyerahkan salah satu jenazah korban tewas kepada pihaknya.

Laporan PBB menyebut sebagian besar penembakan dilakukan terhadap para 'kurir bahan bakar' dari etnis minoritas yang melintasi perbatasan. Radio Free Europe menyebut mereka yang ditembak merupakan penyelundup bahan bakar.

Penembakan itu memicu aksi protes yang meluas dari kota Saravan ke daerah lainnya di wilayah Provinsi Sistan-Baluchistan, termasuk ibu kota Zahedan.

"Rentetan aksi kekerasan dan kerusuhan dimulai pada 22 Februari, ketika Garda Revolusi diduga menembak dan menewaskan sedikitnya 10 kurir bahan bakar, yang dikenal sebagai sookhtbar, di Provinsi Sistan-Baluchistan di perbatasan dengan Pakistan, setelah kebuntuan selama dua hari yang dipicu oleh Garda Revolusi Islam yang memblokir jalan menuju kota Saravan," tutur juru bicara Komisioner Tinggi HAM PBB, Rupert Colville, dalam penjelasannya.

Pembunuhan itu memicu unjuk rasa di beberapa kota di provinsi tersebut. Dengan menurut Colville, Garda Revolusi Iran dan Pasukan Keamanan Iran menembakkan amunisi mematikan ke arah demonstran dan orang-orang yang ada di sekitar lokasi unjuk rasa.

Disebutkan Colville bahwa sulit untuk memverifikasi jumlah korban tewas karena adanya gangguan jaringan data seluler lokal di lokasi, namun sejumlah laporan yang belum dikonfirmasi memperkirakan sedikitnya 23 orang tewas.

"Kami menyerukan kepada otoritas setempat untuk segera memulihkan akses internet di area-area yang masih terputus," ucapnya.

Penduduk Provinsi Sistan-Baluchistan diketahui didominasi oleh warga Sunni, sedangkan sebagian besar warga Iran merupakan penganut Syiah. Iran yang memiliki beberapa harga bahan bakar terendah di dunia ini, tengah memerangi penyelundupan bahan bakar ke negara-negara tetangganya.

(nvc/ita)