Myanmar Diselimuti Ketegangan, Polisi Bubarkan Demonstran Antikudeta

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 17:55 WIB
Hundreds of pro-democracy protesters march demanding the release of pro-democracy activists in Bangkok, Thailand, Wednesday, Feb. 10, 2021. Protesters demanded the government to step down, the constitution to be amended to make it more democratic and the monarchy be more accountable. (AP Photo/Sakchai Lalit)
Ilustrasi (dok. AP/Sakchai Lalit)
Naypyitaw -

Situasi di kota Yangon, Myanmar, dilanda ketegangan setelah polisi antihuru-hara menempuh tindakan keras dalam membubarkan ratusan demonstran antikudeta. Para demonstran berani melawan polisi yang memperingatkan mereka untuk membubarkan diri.

Seperti dilansir AFP, Jumat (26/2/2021), Myanmar menyaksikan luapan kemarahan dan pembangkangan dari ratusan ribu demonstran yang berkumpul menyerukan pembebasan pemimpin de-facto Aung San Suu Kyi yang ditahan sejak kudeta pada 1 Februari lalu. Demonstran juga menuntut dikembalikannya demokrasi di Myanmar.

Di beberapa kota, pasukan keamanan terus meningkatkan penggunaan kekerasan. Namun di pusat komersial Yangon, otoritas setempat cenderung menahan dir, dengan kebanyakan mengandalkan barikade dan kehadiran pasukan keamanan untuk mencegah berkumpulnya demonstran di sekitar area penting dan misi diplomatik setempat.

Namun para demonstran menghindari pembatasan dengan berpindah-pindah lokasi unjuk rasa. Dalam aksi terbaru, mereka mengorganisir aksi di sekitar persimpangan Hledan dan Myaynigone.

Namun pada Jumat (26/2) waktu setempat, polisi antihuru-hara mampu menghadang para demonstran dan memperingatkan mereka untuk membubarkan diri. Dalam aksinya, demonstran lebih banyak duduk dan meneriakkan slogan prodemokrasi.

Sedikitnya dua orang -- salah satunya reporter lepas asal Jepang bernama Yuki Kitazumi -- ditangkap setelah polisi membersihkan lalu lintas yang sibuk di Yangon.

Seorang kolega Kitazumi, Linn Nyan Htun, menuturkan via Facebook bahwa saksi mata menyebut Kitazumi dipukuli di kepala dengan tongkat, namun dia memakai helm pelindung.

Seorang pejabat kepolisian setempat membantah Kitazumi dipukuli, namun dia membenarkan bahwa jurnalis Jepang itu ditahan di kantor polisi setempat dan akan dibebaskan setelah dicatat keterangannya.

Selanjutnya
Halaman
1 2