Diadili, Perusuh Capitol AS Minta Izin Hakim Pergi ke Peru untuk Menikah

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 10 Feb 2021 16:00 WIB
Supporters of US President Donald Trump enter the US Capitol as tear gas fills the corridor on January 6, 2021, in Washington, DC. - Demonstrators breeched security and entered the Capitol as Congress debated the a 2020 presidential election Electoral Vote Certification. (Photo by Saul LOEB / AFP)
Momen saat para pendukung Trump menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari lalu (dok. AFP/SAUL LOEB)
Washington DC -

Seorang pria Kentucky di Amerika Serikat (AS) yang sedang diadili atas empat dakwaan terkait rusuh Gedung Capitol, meminta hakim federal untuk mengizinkannya pergi ke Peru pada akhir bulan ini untuk menikah.

Seperti dilansir CNN, Rabu (10/2/2021), Troy Williams dari Lexington, Kentucky, memberitahu hakim yang mengadili kasusnya bahwa tunangannya tinggal di Peru dan mereka berencana menikah di negara Amerika Selatan itu. Pria berusia 25 tahun ini menuturkan dirinya sudah mem-booking penerbangan ke Peru untuk tanggal 23 Februari dan perjalanan itu akan memakan waktu sekitar dua pekan.

Williams dijerat empat dakwaan pelanggaran hukum ringan terkait rusuh Gedung Capitol pada 6 Januari lalu, yakni memasuki area atau gedung terlarang, berperilaku tidak tertib dan terlibat aksi berkumpul yang melanggar hukum.

Jaksa dari Departemen Kehakiman AS tidak meminta Williams ditahan sembari sidang kasusnya berjalan, dan hakim membebaskannya setelah dia ditangkap. Namun dia perlu mendapatkan izin yudisial atau pengadilan sebelum melakukan perjalanan internasional.

Permintaan mengunjungi Peru yang diajukan ke hakim itu sudah sesuai dengan syarat pembebasan yang ditetapkan hakim sebelumnya. Hakim belum memberi putusan atas permintaan Williams itu.

Menurut dokumen pengadilan, Williams menghadiri pidato berapi-api mantan Presiden Donald Trump pada 6 Januari lalu, kemudian bergabung kerumunan pendukung Trump yang bergerak ke Gedung Capitol.

Kepada agen-agen Biro Investigasi Federal (FBI) yang menginterogasinya, Williams mengakui telah memasuki Gedung Capitol sebanyak dua kali saat penyerbuan berlangsung. Dia menyebut dirinya saat itu menyerah pada 'mentalitas kawanan' dari massa pro-Trump.

"Saya tidak melakukan kesalahan atau menghasut. Kami adalah bagian dari sesuai, ada polisi di sini, mereka berusaha menghentikan kami, mereka tidak mengizinkan kami masuk, tapi tidak melawan kami," ucap Williams kepada FBI seperti tertuang dalam dokumen pengadilan.