Biden Ngotot Tak Akan Cabut Sanksi Sebelum Iran Patuhi Komitmen Nuklir

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Senin, 08 Feb 2021 10:55 WIB
WILMINGTON, DELAWARE - JANUARY 07: U.S. President-elect Joe Biden delivers remarks before announcing his choices for attorney general and other leaders of the Justice Department at The Queen theater January 07, 2021 in Wilmington, Delaware. Biden nominated Judge Merrick Garland to be attorney general, Lisa Monaco to be deputy attorney general, Vanita Gupta to be associate attorney general, and Kristen Clarke to be assistant attorney general for the Civil Rights Division.   Chip Somodevilla/Getty Images/AFP
Presiden AS Joe Biden (Foto: Chip Somodevilla/Getty Images/AFP)
Washington -

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menegaskan bahwa dia tidak akan mencabut sanksi secara sepihak terhadap Iran. Biden meminta Iran harus terlebih dahulu mematuhi komitmen kesepakatan nuklirnya meskipun ada tuntutan untuk mencabut sanksi AS dari pemimpin tertinggi Republik Islam itu pada Minggu (7/2).

Seperti dilansir AFP, Senin (8/2/2021) sikap Biden menggarisbawahi tantangan diplomatik yang sulit ketika Biden berusaha untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir yang ditolak oleh pendahulunya, Donald Trump.

Dalam wawancara CBS News, Minggu (7/2) saat ditanya apakah Biden akan menghentikan sanksi untuk meyakinkan Iran agar kembali ke meja perundingan, ia dengan tegas menjawab "Tidak."

Kemudian Biden ditanya kembali apakah Iran harus menghentikan pengayaan uranium terlebih dahulu, dan Biden dengan cepat menganggukkan kepala.

Pada 2015, kesepakatan penting dicapai oleh Amerika Serikat dan negara-negara besar lain (China, Rusia, Jerman, Prancis, dan Inggris) terkait negosiasi panjang dengan Iran untuk mencegahnya mengembangkan senjata nuklir.

Kesepakatan itu telah 'digantung' sejak Trump memutuskan menarik AS dari kesepakatan itu pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi terhadap Teheran.

Trump berargumen bahwa perjanjian itu tidak cukup membatasi program nuklir Iran dan dia mengeluhkan aktivitas "yang membuat tidak stabil" di wilayah tersebut.

Trump melanjutkan sanksi AS terhadap Teheran yang telah dicabut melalui perjanjian tersebut, dan dia menekan sekutu yang enggan untuk melakukan hal yang sama. Setahun kemudian, Teheran menangguhkan kepatuhannya soal komitmen nuklir.

Pemerintahan Biden telah menyatakan kesediaan untuk kembali ke kesepakatan itu, tetapi bersikeras bahwa Teheran harus terlebih dahulu melanjutkan kepatuhan penuh pada komitmennya.

Selanjutnya
Halaman
1 2