Round Up

Tentang 'Proud Boys' yang Masuk Daftar Teroris Usai Capitol Diserang

Tim Detikcom - detikNews
Kamis, 04 Feb 2021 23:14 WIB
Pasukan Garda Nasional memperketat penjagaan Gedung Capitol, Washington, Amerika Serikat. Penjagaan ini dilakukan menjelang pelantikan Joe Biden sebagai presiden AS.
Ilustrasi (Foto: AP Photo)
Ottawa -

Kelompok sayap kanan Proud Boys sempat menghebohkan Amerika Serikat setelah memainkan peran penting dalam serbuan ke gedung Capitol AS bulan lalu yang menewaskan lima orang.

Pemerintah Kanada yang khawatir kehadiran mereka menimbulkan ancaman keamanan, memasukkan Proud Boys dalam daftar teroris pada Rabu (3/1) waktu setempat.

Dilansir dari Reuters, Kamis (4/2/2021) meski Proud Boys tidak pernah melancarkan serangan di Kanada, Menteri Keamanan Publik Kanada Bill Blair mengatakan bahwa pasukan intelijen domestik semakin mengkhawatirkan kelompok tersebut.

"Telah terjadi peningkatan kekerasan yang serius dan mengkhawatirkan - bukan hanya retorika tetapi aktivitas dan perencanaan - dan itulah mengapa kami menanggapinya seperti yang kami lakukan hari ini," kata Blair dalam konferensi pers. Dia tidak menjelaskan lebih detil soal Proud Boys.

Dengan keputusan ini maka aset-aset kelompok itu sekarang dapat dibekukan oleh bank dan lembaga keuangan, dan warga Kanada yang menangani aset kelompok terorisme dikategorikan sebagai kejahatan. Siapa pun yang tergabung dalam kelompok itu tidak bisa memasuki Kanada.

Diketahui pendiri Proud Boys, Gavin McInnes, adalah seorang warga Kanada yang tinggal di Amerika Serikat.

Kelompok ini didirikan pada tahun 2016, dimulai sebagai organisasi yang memprotes kebenaran politik dan kendala yang dirasakan pada maskulinitas di Amerika Serikat dan Kanada, dan tumbuh menjadi kelompok yang merangkul perkelahian jalanan.

Otoritas AS telah mendakwa beberapa anggota Proud Boys sehubungan dengan serbuan di gedung Capitol AS pada 6 Januari lalu.

Pemerintah Kanada juga memasukkan 12 kelompok lain ke dalam daftar entitas teroris - tiga kelompok neo-Nazi, delapan organisasi yang disebut berafiliasi dengan al Qaeda dan ISIS, serta Hizbul Mujahideen, sebuah kelompok Kashmir.

Blair mengatakan badan intelijen Kanada telah bekerja selama berbulan-bulan, bahkan dalam beberapa kasus bertahun-tahun, mengumpulkan bukti yang diperlukan untuk membuat daftar kelompok teroris tersebut.

"Kanada tidak akan mentolerir tindakan kekerasan ideologis, agama atau bermotif politik," tegas Blair.

"Daftar tersebut kemungkinan akan mendapatkan sejumlah tanggapan soal anggota Proud Boys," kata Jessica Davis, mantan analis intelijen senior Badan Intelijen Keamanan Kanada.

"Untuk beberapa individu ini mungkin memiliki efek peredam ... Namun, mungkin ada beberapa anggota inti yang akan semakin diradikalisasi," kata Davis, presiden Insight Threat Intelligence.

"Sulit untuk mengatakan berapa banyak anggota Proud Boys yang ada di Kanada," kata Evan Balgord, direktur eksekutif Anti-Hate Network of Canada.

Grup itu sendiri tidak memiliki aset keuangan utama, sejauh yang diketahui Balgord.

"Langkah tersebut menggarisbawahi keprihatinan konstitusional tentang kemampuan pemerintah Kanada untuk menunjuk sebuah kelompok sebagai entitas teroris," kata Leah West, seorang profesor keamanan nasional di Universitas Carleton Ottawa dan mantan pengacara di Departemen Kehakiman Kanada.

(izt/ita)