Round Up

Partai Republik 'Kultus' Bagi Trump, Para Politikus Keluar Ramai-ramai

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 02 Feb 2021 20:29 WIB
Saya Presiden yang Tidak Memulai Perang Baru: Pidato Terakhir Donald Trump
Mantan Presiden AS, Donald Trump (Foto: ABC Australia)
Washington DC -

Partai Republik di Amerika Serikat ditinggal puluhan politikusnya, terutama yang menjabat pada era pemerintahan Presiden George W Bush. Partai Republik saat ini dijuluki 'kultus' bagi mantan Presiden Donald Trump.

Mereka yang keluar dari partai merasa kecewa dengan kegagalan para anggota parlemen Republikan untuk mengecam Trump setelah klaim palsu soal kecurangan pemilu yang dilontarkannya memicu aksi penyerbuan dan kerusuhan di Gedung Capitol bulan lalu.

Dilansir Reuters, Selasa (2/2/2021), para pejabat yang memegang jabatan tinggi pada era pemerintahan Bush ini, mengharapkan kekalahan Trump dalam pilpres akan membuat para pemimpin Partai Republik untuk meninggalkan Trump dan mengecam klaim-klaim tak berdasar soal pilpres AS 2020 dicuri darinya.

Namun dengan kebanyakan anggota parlemen Republikan masih 'menempel' pada Trump, para pejabat ini menyatakan mereka tidak lagi mengenali partai yang telah menjadi tempat mereka mengabdi selama bertahun-tahun.

Menurut belasan pejabat era Bush yang bicara kepada Reuters, beberapa pejabat langsung mengakhiri keanggotaan mereka di Partai Republik yang berdiri sejak 1854 silam ini. Ada juga yang membiarkan masa keanggotaannya berakhir dengan sendirinya dan sejumlah kecil menyatakan diri sebagai politikus independen.

"Partai Republik yang saya ketahui sudah tidak ada lagi, saya akan menyebutnya kultus Trump," cetus Jimmy Gurule, mantan Wakil Menteri Keuangan untuk Urusan Terorisme dan Intelijen Keuangan pada era Bush.

Kristopher Purcell yang bekerja di kantor komunikasi Gedung Putih pada era Bush selama 6 tahun, menuturkan bahwa sekitar 60-70 pejabat era Bush memutuskan untuk keluar dari Partai Republik atau memutuskan hubungan dengan partai itu. "Jumlahnya bertambah setiap hari," ucapnya.

Keluarnya puluhan politikus dari Partai Republik setelah mereka bergabung sejak lama ini menjadi tanda jelas soal bagaimana konflik internal di dalam partai semakin berkembang terkait Trump dan warisannya.