Round-Up

Lebih Ketat Pengamanan untuk Biden Jelang Dilantik Jadi Presiden

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 13 Jan 2021 04:45 WIB
Lambang QAnon (AFP Photo)
Foto: Lambang QAnon, pendukung Donald Trump (AFP Photo)
Washington DC -

Acara pelantikan presiden AS terpilih Joe Biden akan lebih diperketat. Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyetujui 15.000 personel pasukan Garda Nasional untuk dikerahkan saat pelantikan pada 20 Januari mendatang.

Pengerahan pasukan ini dilakukan di tengah kekhawatiran serangan para pendukung Presiden Donald Trump.

Dilansir AFP, Selasa (12/11/2021) sudah ada 6.200 pasukan yang ditempatkan di Washington, dan total 10.000 personel direncanakan pada akhir pekan mendatang. Hal ini disampaikan oleh Jenderal Daniel Hokanson, kepala Biro Pengawal Nasional Departemen Pertahanan.

Dia menambahkan, 5.000 personel lainnya dapat dikerahkan pada hari pelantikan.

Mereka akan dilengkapi dengan perlengkapan anti huru-hara dan senjata. Tetapi sejauh ini mereka belum diizinkan mempersenjatai diri saat berada di jalan-jalan ibu kota AS.

Saat ini misi mereka adalah mendukung polisi setempat dalam komunikasi, logistik, dan keamanan.

Hokanson mengatakan bahwa pihaknya akan memberi wewenang kepada Garda Nasional untuk ditempatkan dalam peran penegakan hukum, dipersenjatai dan diberdayakan untuk melakukan penangkapan. Namun ini akan menjadi "pilihan terakhir" jika situasi keamanan tidak terkendali.

Pentagon sebelumnya telah dikritik karena responsnya yang lambat saat menghadapi penyerbuan massa ke gedung Capitol AS pada hari Rabu (12/1) lalu. Capitol ketika itu dikepung oleh ribuan pendukung Trump yang menyerang pasukan keamanan Kongres yang tidak siap.

Namun, pejabat Pentagon mengatakan bahwa mereka dihubungi secara terlambat dan tidak segera membawa perlengkapan anti huru-hara yang diperlukan.

"Mereka tidak mengantisipasi tingkat kekerasan itu," kata Hokanson.

Sebelumnya Wali Kota Washington Muriel Bowser mengatakan akan mengantisipasi kemungkinan ketegangan saat pelantikan Biden. Dia menyerukan agar masyarakat menjauh dari kota itu.

"Kami meminta warga Amerika untuk tidak datang ke Washington DC untuk pelantikan presiden ke-59 pada 20 Januari dan sebagai gantinya berpartisipasi secara virtual," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2