Pendukung Trump Bersumpah Akan Beraksi Lagi pada Pelantikan Biden

ADVERTISEMENT

Pendukung Trump Bersumpah Akan Beraksi Lagi pada Pelantikan Biden

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Senin, 11 Jan 2021 14:42 WIB
Trump supporters clash with police and security forces as they storm the US Capitol in Washington D.C on January 6, 2021. - Demonstrators breeched security and entered the Capitol as Congress debated the a 2020 presidential election Electoral Vote Certification. (Photo by ROBERTO SCHMIDT / AFP)
massa Trump serbu gedung Capitol AS (Foto: AFP/ROBERTO SCHMIDT)
Washington DC -

Setelah kerusuhan di gedung Capitol AS, para pendukung Presiden Donald Trump bersumpah akan kembali ke Washington untuk pelantikan Presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari. Massa akan digerakkan menggunakan platform online.

Dilansir NBC News, Senin (11/1/2021) ancaman aksi ekstremis sayap kanan usai kerusuhan di gedung Capitol AS pada Rabu (6/1) itu, muncul di platform Parler. Platform populer ini sering memposting tentang QAnon, dan dilacak oleh Anti-Defamation League.

QAnon adalah sebuah teori konspirasi sayap kanan yang menyatakan bahwa terdapat rencana rahasia yang dilakukan oleh "negara rahasia" terhadap Presiden AS Donald Trump dan para pendukungnya.

"Banyak dari Kami akan kembali pada 19 Januari 2021, membawa senjata Kami, untuk mendukung tekad bangsa kami, yang tidak akan pernah dilupakan dunia!!! Kami akan datang dalam jumlah yang tidak dapat ditandingi oleh tentara atau agen polisi," tulis pengguna Parler.

Parler, ruang obrolan Telegram, dan platform TheDonald.win semuanya digunakan untuk merencanakan dan mengoordinasikan unjuk rasa 6 Januari lalu yang berubah menjadi kerusuhan. Ancaman tersebut secara eksplisit menyatakan niat mereka untuk "menduduki" Capitol. Ahli teori konspirasi QAnon dan orang-orang yang terkait dengan kelompok milisi terlihat jelas di kerumunan hari Rabu (6/1) lalu.

"Putaran 2 pada 20 Januari. Kali ini tidak ada ampun. Saya bahkan tidak peduli tentang menjaga kekuasaan Trump. Saya peduli dengan perang," demikian unggahan anonim di platform TheDonald.win.

Aparat penegak hukum berupaya untuk mengidentifikasi mereka yang masuk ke gedung Capitol, dan khawatir tentang pelantikan Biden sebagai target lain.

"Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa ekstremis brutal menjadi berani dengan pelanggaran Capitol, yang berarti waktu terus berdetak untuk menghapus hasutan paling berpengaruh dari kekerasan sebelum mereka bertindak lagi," kata Frank Figliuzzi, mantan asisten direktur FBI dan analis keamanan.

Simak video 'Trump Tak Akan Hadiri Pelantikan Joe Biden Sebagai Presiden AS':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT