50 Aktivis Pro-demokrasi Termasuk 1 Warga AS Ditangkap Polisi Hong Kong

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 06 Jan 2021 13:20 WIB
Former law professor Benny Tai, center, a key figure in Hong Kongs 2014 Occupy Central protests and also was one of the main organizers of the primaries, sits in a car after being arrested by police in Hong Kong, Wednesday, Jan. 6, 2021. About 50 Hong Kong pro-democracy figures were arrested by police on Wednesday under a national security law, following their involvement in an unofficial primary election last year held to increase their chances of controlling the legislature, according to local media reports. (AP Photo/Apple Daily)
Mantan profesor hukum Benny Tai (tengah) menjadi salah satu tokoh yang ditangkap polisi Hong Kong (AP Photo/Apple Daily)
Hong Kong - Sebanyak 50 aktivis pro-demokrasi dan tokoh oposisi Hong Kong ditangkap pada Rabu (6/1) waktu setempat, karena dianggap melanggar undang-undang (UU) keamanan nasional. Salah satu yang ditangkap merupakan seorang warga negara Amerika Serikat (AS) yang bekerja di firma hukum setempat.

Seperti dilansir AFP dan Reuters, Rabu (6/1/2021), penangkapan itu menjadi penindakan terbesar terhadap orang-orang yang mengkritik China di Hong Kong. Tokoh dan partai oposisi menggunakan akun Facebook dan Twitter mereka untuk mengonfirmasi sedikitnya 21 penangkapan, yang sebagian besar dituduh melakukan 'subversi'.

Dua sumber polisi senior Hong Kong yang enggan disebut namanya menuturkan kepada AFP bahwa 'sekitar 50' orang ditangkap oleh unit keamanan nasional Hong Kong.

Penindakan oleh polisi itu menjaring sejumlah besar tokoh oposisi, mulai dari mantan anggota parlemen veteran pro-demokrasi seperti James To, Andrew Wan dan Lam Cheuk Ting hingga sejumlah aktivis muda. Beberapa aktivis muda mengonfirmasi penangkapan mereka melalui Facebook, antara lain Gwyneth Ho (30) yang mantan jurnalis dan Tifanny Yuen (27) yang seorang anggota dewan distrik setempat.

Kepolisian Hong Kong belum menjelaskan resmi soal jumlah aktivis yang ditangkap dan apa alasan penangkapan itu.

Sejumlah tokoh oposisi menuturkan bahwa penangkapan itu terkait pelaksanaan pemilu pendahuluan yang digelar partai-partai pro-demokrasi tahun lalu, menjelang pemilu legislatif daerah yang akhirnya dibatalkan.

Lebih dari 600 ribu warga Hong Kong memberikan suara dalam pemilu pendahuluan tidak resmi itu. Pemilu itu bertujuan memilih kandidat yang akan mencalonkan diri dalam pemilu legislatif Hong Kong. Oposisi berencana memenangkan 35 kursi -- dari total 70 kursi -- dalam parlemen Hong Kong dan merebut dominasi untuk pertama kalinya.

Selanjutnya
Halaman
1 2