Jet Tempur China 380 Kali Menyusup ke Wilayah Taiwan pada 2020

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 05 Jan 2021 17:25 WIB
In this photo released by the Taiwan Ministry of National Defense, a Chinese Peoples Liberation Army H-6 bomber is seen flying near the Taiwan air defense identification zone, ADIZ, near Taiwan on Friday, Sept. 18, 2020. The second high-level U.S. envoy to visit Taiwan in two months began a day of closed-door meetings Friday as China conducted military drills near the Taiwan Strait after threatening retaliation. (Taiwan Ministry of National Defense via AP)
Ilustrasi -- Pesawat pengebom H-6 milik China yang kedapatan terbang di dekat Zona Identifikasi Pertahanan Udara Taiwan beberapa waktu lalu (Taiwan Ministry of National Defense via AP)
Taipei -

Otoritas Taiwan mengungkapkan bahwa jet-jet tempur China telah melakukan 380 kali penyusupan ke dalam zona pertahanan negara ini sepanjang tahun lalu. Ketegangan antara Taiwan dan China disebut berada di titik tertinggi sejak pertengahan tahun 1990-an.

Seperti dilansir AFP, Selasa (5/1/2021), Taiwan berada di bawah ancaman invasi terus-menerus oleh China, yang masih menganggap negara kepulauan itu sebagai bagian dari wilayahnya. China bahkan bersumpah untuk merebut kembali Taiwan suatu saat nanti, bahkan dengan kekerasan jika perlu.

Sikap permusuhan China meningkat secara dramatis sejak Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, menang pemilu tahun 2016 dan menolak gagasan bahwa Taiwan bagian dari 'satu China'.

Namun aktivitas militer China yang mengerahkan jet tempur, pesawat pengebom dan pesawat pengintai ke dalam Zona Identifikasi Pertahanan Taiwan (ADIZ) mencapai puncaknya tahun 2020 lalu, pada level yang belum pernah tercapai sebelumnya.

"380 penyusupan ke dalam ADIZ sebelah barat daya pada tahun 2020 jelas jauh lebih sering daripada sebelumnya," ungkap juru bicara Kementerian Pertahanan Taiwan, Shih Shun-wen, dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, Shih menyebut pesawat-pesawat tempur China itu menargetkan area tersebut 'untuk menguji respons militer kami, untuk memberikan tekanan terhadap pertahanan udara kami dan untuk menekan wilayah udara untuk aktivitas kami'.

Angka-angka itu diungkapkan saat Institut Penelitian untuk Pertahanan dan Keamanan Nasional yang berafiliasi dengan militer, melontarkan peringatan dalam sebuah laporan tahunan untuk Tentara Pembebasan Rakyat -- militer China -- bahwa 'ancaman militer China merupakan yang tertinggi sejak krisis rudal tahun 1996 di Selat Taiwan'.

Selanjutnya
Halaman
1 2