Round-Up

Saat Pendukung Monarki Bikin Raja Thailand 'Turun Gunung'

Tim detikcom - detikNews
Senin, 02 Nov 2020 20:44 WIB
Pendukung monarki menampilkan gambar Raja Maha Vajiralongkorn, Ratu Suthida dan mendiang Raja Bhumibol Adulyadej saat mereka berkumpul di depan Grand Place di Bangkok, Thailand, Minggu, 1 November 2020. (Foto AP / Wason Wanichakorn)
Foto: Pendukung monarki menampilkan gambar Raja Maha Vajiralongkorn, Ratu Suthida dan mendiang Raja Bhumibol Adulyadej saat mereka berkumpul di depan Grand Place di Bangkok, Thailand, Minggu, 1 November 2020. (Foto AP / Wason Wanichakorn)
Bangkok -

Para pendukung sistem monarki di Thailand akhirnya turun gunung. Mereka tampak berbaur dengan warga di jalan pada Minggu (2/11/2020) untuk mendukung raja dan ratunya.

Dilansir Associated Press (AP), Senin (2/11/2020) kerumunan pendukung kerajaan menunggu berjam-jam di luar tembok putih kompleks istana untuk menyambut mereka, membawa potret Raja Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida dan mengibarkan bendera nasional. Hampir semuanya mengenakan kaos kuning, menandakan kesetiaan pada monarki.

"Saya datang ke sini hari ini dengan membawa hati saya," kata pengusaha wanita berusia 44 tahun dan konsultan astrologi Pakawarin Damrongrotthawee.

"Lahir sebagai orang Thailand, kita harus berterima kasih kepada monarki. Jika ada yang ingin memprotes pemerintah, mereka bisa melakukannya. Tapi mereka tidak boleh menyentuh monarki," ujarnya.

Saat pasangan kerajaan itu muncul sembari tersenyum, para pendukungnya meneriakkan "Hidup Raja!" dan mencium kaki raja saat pasangan itu lewat, beberapa menyekanya dengan handuk. Sejumlah penonton mengulurkan tangan untuk menyentuh tangannya, dan memberikan mawar kuning kepada pasangan itu saat mereka lewat. Anggota keluarga kerajaan lainnya mengikuti di belakang mereka.

Momen ini adalah yang terbaru dari beberapa peristiwa serupa yang telah terjadi di beberapa kota di Thailand.

"Ini pertama kalinya saya datang untuk menyambut raja," kata Siraseth Limpisuree (55).

"Saya ingin menyemangati dia karena sekelompok orang Thailand memiliki sikap yang salah terhadap monarki. Saya ingin mereka memahami bahwa monarki adalah bagian dari masyarakat Thailand dan Thailand tidak akan pernah bisa bertahan tanpa monarki. Kita seharusnya tidak melibatkan monarki dalam kekacauan politik. Pemerintah dapat diubah, tetapi monarki tidak boleh direformasi karena mereka (para pengunjuk rasa) menuntut," tuturnya.

Sebelumnya, para pengunjuk rasa yang dipimpin mahasiswa mengatakan bahwa istana menjalankan kekuasaan dan pengaruh yang tidak semestinya untuk monarki konstitusional, dan berusaha membuatnya lebih akuntabel di bawah hukum. Mereka menyangkal ingin melihat institusi kerajaan dihapuskan.

Aksi-aksi protes di Thailand dimulai pada Juli dan awalnya menuntut perubahan politik - termasuk pemilihan umum baru dan konstitusi yang lebih demokratis - tetapi tuntutan paralel untuk reformasi monarki telah menjadi pusat perhatian.

Selanjutnya
Halaman
1 2