Mengapa Warga Thailand Berani Secara Terbuka Menentang Kekuasaan Raja?

ABC Australia - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 12:59 WIB
Jakarta -

Gelombang protes yang dilakukan belasan ribu warga muda Thailand sudah berlangsung sejak bulan Juli.

Ini adalah salah satu protes terbuka yang menyerukan supaya lembaga kerajaan yang selama ini dianggap sakral bagi mayoritas warga direformasi.

Mereka juga meminta agar pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha yang melakukan kudeta di tahun 2014 mundur.

Sejauh ini pemerintah sudah melarang demo dan menurunkan tentara di jalanan tetapi unjuk rasa tidak juga mereda.

People hunch over in a street as they are sprayed with wate

Petugas keamanan menggunakan semprotan air guna membubarkan pengunjuk rasa di Bangkok tanggal 16 Oktober 2020. (AP: Gemunu Amarasinghe)

Namun belasan aktivis telah ditahan dengan tuduhan lain, antara lain penghasutan, karena keterlibatan mereka dalam protes.

Tetapi pemerintah mengaku tidak menargetkan penentangnya dan mengatakan polisi hanya melakukan tugasnya untuk menegakkan aturan.

Jadi bagaimana selanjutnya?

Sejauh ini belum ada tuntutan pengunjuk rasa yang dipenuhi.

Perdana Menteri mengatakan dia tidak mengundurkan diri atau menyerah pada 'tuntutan massa' namun mengatakan akan mendiskusikan ini di parlemen.

Para pengunjuk rasa mengatakan mereka akan terus melakukan aksi sampai adanya perubahan.

Jadi, kemungkinan besar ketegangan politik di Thailand ini masih akan terus berlanjut.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita)