Trump Akui Pernah Ingin Bunuh Presiden Suriah, Tapi Ditentang Eks Menhan

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 16:47 WIB
US President Donald Trump speaks to the press in the Brady Briefing Room of the White House in Washington, DC, on August 10, 2020. - Secret Service guards shot a person, who was apparently armed, outside the White House on Monday, President Donald Trump said just after being briefly evacuated in the middle of a press conference. The president was abruptly ushered out of the press event and black-clad secret service agents with automatic rifles rushed across the lawn north of the White House. Minutes later, Trump reappeared at the press conference, where journalists had been locked in, and announced that someone had been shot outside the White House grounds. Trump said he knew nothing about the identity or motives of the person shot, but when asked if the person had been armed, answered: From what I understand, the answer is yes. (Photo by Brendan Smialowski / AFP)
Donald Trump (AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengakui dirinya pernah ingin membunuh Presiden Suriah, Bashar al-Assad, dengan operasi militer tahun 2017 lalu. Namun keinginan Trump itu ditentang keras oleh eks Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis.

Seperti dilansir AFP, Rabu (16/9/2020), pengakuan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan program televisi Fox News yang berjudul 'Fox & Friends' pada Selasa (15/9) waktu setempat.

"Saya lebih memilih untuk mengenyahkannya (Assad-red). Saya sudah menyiapkannya," ucap Trump, merujuk pada operasi militer untuk membunuh Assad.

"Mattis tidak ingin melakukannya. Mattis adalah jenderal yang dinilai terlalu tinggi, dan saya membiarkannya pergi," imbuhnya.

Saat operasi untuk membunuh Assad itu dibahas tahun 2017 lalu, Mattis masih menjabat sebagai Menhan AS. Mattis yang pensiunan Jenderal Korps Marinir AS ini mengundurkan diri tahun 2018 setelah gagal meyakinkan Trump untuk mempertimbangkan kembali penarikan seluruh tentara AS dari Suriah.

Sementara itu, pengakuan Trump itu mendukung laporan yang muncul tahun 2018 lalu, saat wartawan veteran The Washington Post, Bob Woodward, menerbitkan bukunya yang berjudul 'Fear: Trump in the White House'. Woodward dikenal sebagai wartawan yang membongkar skandal Watergate tahun 1970-an yang melengserkan Presiden AS saat itu, Richard Nixon, dari jabatannya.

Pada saat itu, Trump membantah laporan dalam buku Woodward tersebut. "Itu bahkan tidak pernah dipikirkan," ucap Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, pada September 2018, saat membantah laporan soal keinginannya membunuh Assad.

Trump sebelumnya dilaporkan mempertimbangkan untuk membunuh Assad setelah Presiden Suriah itu melancarkan serangan kimia terhadap warga sipil pada April 2017. Menurut buku Woodward, Trump saat itu mengatakan bahwa pasukan militer AS harus 'masuk' dan 'membunuh' Assad.

Selanjutnya
Halaman
1 2