PBB Tuntut Presiden dan PM Mali Dibebaskan Tanpa Syarat

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 19 Agu 2020 04:38 WIB
UN Secretary-General Antonio Guterres looks on during the opening of the UN Human Rights Councils main annual session on February 24, 2020 in Geneva. - The UNs secretary general launched a
Foto: Antonio Guterres (AFP/FABRICE COFFRINI)
Mali -

Kelompok pemberontak menahan Presiden dan Perdana Menteri Mali. Sekjen PBB, Antonio Geuterres menuntut 'pembebasan segera dan tanpa syarat' terhadap pemimpin politik Mali itu.

"Sekretaris Jenderal mengecam keras tindakan ini dan menyerukan pemulihan segera tatanan konstitusional dan supremasi hukum di Mali," kata Juru Bicara Guterres, Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan seperti dilansir, AFP, Rabu (19/8/2020).

"Untuk tujuan ini, dia menuntut pembebasan dengan segera dan tanpa syarat Presiden Ibrahim Boubacar Keita dan anggota kabinetnya," tambahnya.

Penangkapan secara tiba-tiba itu sebagai pertanda peningkatan yang dramatis terhadap krisis antara pemerintah dan kelompok pemberontak selama berbulan-bulan di Afrika Barat itu.

Guterres mengikuti perkembangan yang terjadi di Ibu Kota Bamako merasakan "dengan keprihatinan yang mendalam," jelas Dujarric.

"Sekretaris Jenderal mengulangi seruannya untuk penyelesaian yang dinegosiasikan dan resolusi damai atas perbedaan mereka," ungkapnya.

"Sekretaris Jenderal mendesak semua pemangku kepentingan, terutama pertahanan dan keamanan untuk menahan diri secara maksimal dan menegakkan hak asasi manusia dan kebebasan individu semua warga Mali," ungkap juru bicara itu.

Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pembicaraan darurat tentang krisis pada Rabu Sore. Hal itu diungkapkan oleh para diplomat New York.

Pertemuan itu diminta oleh Presiden Prancis dan Niger dan akan berlangsung secara tertutup. Informasi itu disampaikan oleh seorang diplomat PBB kepada AFP tanpa menyebutkan namanya.

Sebelumnya, kelompok pemberontak di Mali mengklaim bahwa pihaknya menahan Predisen Ibrahim Boubacar pada Selasa waktu setempat. Perdana Menteri Boubou Cisse juga ditahan oleh kelompok tersebut.

"Kami dapat memberitahu anda bahwa Presiden dan Perdana Menteri berada di bawah kendali kami," kata Pemimpin yang tidak mau disebutkan namanya kepada AFP, Rabu (19/8/2020).

(lir/lir)