Prancis Desak Lebanon Bentuk Pemerintahan Baru Usai PM Diab Mundur

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 11 Agu 2020 04:18 WIB
French European and Foreign Affairs Minister Jean-Yves Le Drian speaks during a session of Questions to the government, on July 28, 2020, at the National Assembly in Paris. (Photo by STEPHANE DE SAKUTIN / AFP)
Foto: Jean-Yves Le Drian (AFP/STEPHANE DE SAKUTIN)
Paris -

Prancis mendesak Lebanon membentuk pemerintahan baru. Desakan itu muncul setelah Perdana Menteri Hassan Diab mengundurkan diri dari pemerintahan.

"Aspirasi yang diungkapkan oleh Lebanon dalam hal reformasi dan pemerintahan harus didengarkan," kata Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP, Selasa (11/8/2020).

Drian mengatakan pemerintah harus bergerak cepat memenuhi tuntutan rakyat Lebanon. Dia menyebut usai ledakan pada 4 Agustus lalu Lebanon harus segera bangkit.

"Prioritasnya harus pembentukan cepat, pemerintahan yang dapat memenuhi harapan rakyat, yang misinya adalah untuk memenuhi tantangan utama negara, terutama rekonstruksi Beirut dan reformasi yang tanpanya negara akan mengalami kemerosotan ekonomi, kekacauan sosial dan politik," kata Drian.

Pemerintahan Diab dibentuk pada Januari lalu itu diharapkan dapat mengatasi krisis ekonomi yang terus meningkat. Namun Diab resmi mengundurkan diri dari pemerintahan pada Senin (10/8) waktu setempat. Pengunduran diri itu sebagai jawaban atas desakan rakyat usai terjadi ledakan di Beirut pada 4 Agustus lalu.

"Hari ini kami mengikuti keinginan masyarakat dalam tuntutan mereka untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab atas bencana," kata Diab dalam pidatonya yang disiarkan televisi seperti dilansir AFP, Senin (10/8/2020).

"Inilah mengapa hari ini saya mengumumkan pengunduran diri pemerintah," sambungnya.

Sementara itu, ledakan di Beirut sendiri telah menewaskan sebanyak 160 orang. Sekitar 6.000 orang mengalami luka-luka. Ledakan itu juga memporak-porandakan sebagian besar kota.

(lir/lir)