Sebelum Ledakan di Lebanon, Peringatan Soal Amonium Nitrat Tak Digubris

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 11:01 WIB
This satellite image taken on Wednesday Aug. 5, 2020 shows the port of Beirut and the surrounding area in Lebanon following a massive blast on Tuesday. Residents of Beirut confronted a scene of utter devastation a day after a massive explosion at the port rippled across the Lebanese capital, killing at least 100 people, wounding thousands and leaving entire city blocks blanketed with glass and rubble. (Planet Labs Inc. via AP)
Ledakan dahsyat memicu kawah denan diameter 124 meter di pelabuhan Beirut, Lebanon (AP Photo)
Beirut -

Sejumlah besar amonium nitrat yang diduga menjadi penyebab ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon, disimpan 6 tahun di gudang pelabuhan tanpa ada langkah keamanan tegas. Penyimpanan zat kimia berbahaya itu telah beberapa kali mendapatkan peringatan dari pihak Bea Cukai Lebanon, namun tidak pernah didengarkan.

Seperti dilansir CNN, Kamis (6/8/2020), dokumen-dokumen yang diamati CNN mengungkapkan bahwa muatan 2.750 ton amonium nitrat itu dibawa sebuah kapal milik Rusia, MV Rhosus, yang berlabuh di Beirut tahun 2013 lalu. Kapal tersebut hendak berlayar ke Mozambik, namun berhenti di Beirut karena kesulitan finansial yang memicu protes di kalangan awak kapal asal Rusia dan Ukraina.

Oleh otoritas pelabuhan Beirut, MV Rhosus kemudian ditahan karena 'pelanggaran berat dalam operasional kapal', tidak membayar biaya kepada otoritas pelabuhan dan karena ada pengaduan dari awak kapal yang tidak pernah dibayar upahnya. Kapal itu tidak pernah melanjutkan pelayarannya ke Mozambik dan tertahan di Beirut selama berbulan-bulan, hingga para awak kapal dipulangkan ke negara asal mereka.

Otoritas pelabuhan Beirut tidak mengizinkan muatan amonium nitrat di dalam MV Rhosus untuk diturunkan dari kapal atau dipindahkan ke kapal lain. Tahun 2014, Mikhail Voytenko, yang mengelola publikasi online yang melacak aktivitas maritim, bahkan sempat menyebut MV Rhosus sebagai 'bom terapung'.

Namun menurut percakapan email antara kapten kapal MV Rhosus, Boris Prokoshev, dengan seorang pengacara berbasis Beirut, Charbel Dagher, yang mewakili para awak kapal, muatan amonium nitrat dalam kapal diturunkan di pelabuhan Beirut pada November 2014 dan disimpan di sebuah hanggar di pelabuhan.

Muatan berbahaya itu tetap disimpan di hanggar selama enam tahun, meskipun ada peringatan dari Direktur Bea Cukai Lebanon, Badri Daher, soal 'bahaya ekstrem' muatan itu. Dokumen pengadilan yang didapatkan CNN melalui pengacara HAM Lebanon, Wadih Al-Asmar, mengungkapkan bahwa Daher dan pejabat pendahulunya, Chafic Merhi, berulang kali, sejak tahun 2014, meminta bantuan pengadilan Beirut untuk memindahkan amonium nitrat itu.

"Dalam memo kami 19320/2014 tertanggal 5/12/2014 dan 5/6/2015 ... kami meminta agar Yang Mulia memerintahkan Otoritas Pelabuhan yang bertanggung jawab untuk mengekspor kembali Amonium Nitrat yang disita dari kapal Rhosus dan ditempatkan di dalam hanggar Bea Cukai nomor 12 di pelabuhan Beirut," tulis Daher tahun 2017 lalu.

Tonton video 'Ledakan di Lebanon Tinggalkan Kawah yang Menganga':

[Gambas:Video 20detik]