1 Warga AS Tewas dalam Ledakan di Lebanon, Beberapa Orang Luka-luka

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 09:26 WIB
Upaya pencarian dan penyelamatan (SAR) masih terus dilakukan oleh petugas darurat setempat. Korban tewas saat ini melebihi 100 orang.
Dampak ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut, Lebanon (AP Photo)
Washington DC -

Otoritas Amerika Serikat (AS) menyatakan sedikitnya satu warga mereka tewas akibat ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon. Beberapa warga AS lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

"(Departemen Luar Negeri AS) Mengetahui sedikitnya satu warga AS tewas, dan beberapa lainnya luka-luka, akibat ledakan," demikian pernyataan juru bicara Departemen Luar Negeri AS, seperti dilansir CNN, Kamis (6/8/2020).

"Seluruh personel Kepala Misi AS di Beirut dalam keadaan selamat dan aman dan Kedutaan Besar AS di Beirut tetap buka," imbuh pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, juru bicara ini menyatakan bahwa otoritas AS masih mencari informasi soal kemungkinan warga AS lainnya yang terdampak ledakan dahsyat tersebut.

"Kami menyampaikan belasungkawa mendalam kami kepada orang-orang tercinta mereka dan berupaya memberikan bantuan konsular bagi warga AS dan keluarga mereka yang terdampak," sebutnya.

"Kami bekerja secara saksama dengan otoritas lokal untuk mencari tahu apakah ada warga AS lainnya yang terdampak. Untuk menghormati keluarga-keluarga pada masa sulit ini, kita tidak akan berkomentar lebih lanjut," tambahnya.

Departemen Luar Negeri AS mendorong 'warga negara AS di area-area terdampak yang dalam keadaan selamat untuk menghubungi keluarga tercinta secara langsung atau meng-update status mereka di media sosial'.

"Jika Anda berada di area terdampak dan membutuhkan layanan darurat segera, tolong hubungi otoritas setempat. Kami mengimbau warga AS untuk menghindari area-area terdampak atau berlindung dan mematuhi arahan dari otoritas lokal," imbau juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

Menteri Kesehatan Lebanon, Hamad Hassan, dalam pernyataan terbaru mengumumkan korban tewas akibat ledakan dahsyat itu bertambah menjadi 135 orang. Sekitar 5 ribu orang lainnya mengalami luka luka dan puluhan orang masih dilaporkan hilang.

(nvc/ita)