Korut Tingkatkan Langkah Pencegahan Usai Laporkan Kasus Suspek Corona

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 28 Jul 2020 16:01 WIB
Health officials disinfect an office room amid concerns over the COVID-19 coronavirus at the Pyongchon District Peoples Hospital in Pyongyang on April 1, 2020. (Photo by KIM Won Jin / AFP) (Photo by KIM WON JIN/AFP via Getty Images)
Ilustrasi -- Petugas menyemprotkan disinfektan di sebuah rumah sakit di Pyongyang, Korut (KIM WON JIN/AFP/Getty Images via CNN)
Pyongyang -

Otoritas Korea Utara (Korut) memberlakukan langkah-langkah pencegahan lebih tegas untuk memerangi virus Corona (COVID-19). Korut telah menerapkan lockdown sepenuhnya terhadap kota Kaesong, dekat perbatasan Korea Selatan (Korsel), setelah melaporkan kasus suspek Corona pertama di wilayah itu.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (28/7/2020), langkah-langkah pencegahan yang dimaksud antara lain memberlakukan aturan karantina ketat dan pemeriksaan di setiap distrik, yang disebut oleh kantor berita Korut, KCNA, tengah berlangsung.

KCNA dalam laporannya menyebut alat tes Corona, pakaian pelindung dan perlengkapan medis sedang disalurkan dengan cepat di wilayah Korut.

Langkah-langkah ini diberlakukan setelah pemimpin Korut, Kim Jong-Un, menetapkan masa darurat pada Minggu (26/7) waktu setempat, usai seseorang yang diduga terinfeksi virus Corona kembali ke Korut, dari wilayah Korsel. KCNA menyebutnya sebagai pembelot Korut yang menyeberang perbatasan secara ilegal.

Dalam pernyataan kepada Reuters pada Senin (27/7) waktu setempat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa Korut melaporkan pihaknya telah melakukan tes Corona terhadap 1.211 orang hingga 16 Juli, dengan semua hasilnya negatif. Laporan Korut, menurut WHO, menyebut 696 warganya menjalani karantina terkait kekhawatiran Corona.

Disebutkan juga oleh WHO bahwa primer (bentangan kecil DNA atau RNA) dan probe (fragmen DNA atau RNA) untuk mesin-mesin yang mampu memfasilitasi 1.000 tes telah tiba di Korut. WHO menyebut ada sedikitnya 15 laboratorium yang dirancang untuk melakukan tes Corona di Korut.

Korut diketahui memiliki sistem layanan kesehatan terbatas dengan rumah-rumah sakit yang kekurangan pasokan listrik, obat-obatan dan air. Korut sudah sejak lama bergantung pada WHO untuk membeli dan mendapatkan obat-obatan, karena sanksi-sanksi yang dijatuhkan ke negara ini menyulitkan impor.

Dalam beberapa bulan terakhir, Korut menerima pasokan alat tes dan alat pelindung diri (APD) dari WHO dan beberapa negara, termasuk Rusia. Namun beberapa pasokan medis itu tertahan di perbatasan karena adanya aturan pembatasan yang diterapkan Korut sendiri.

Awal bulan ini, Korut mengklaim pihaknya mulai melakukan uji klinis tahap awal untuk vaksin Corona. Klaim ini diragukan oleh para pakar internasional. Seorang mantan dokter Korut yang membelot ke Korsel tahun 2012, Choi Jung-Hun, menyebut bahwa Korut kekurangan teknologi dan laboratorium untuk mengembangkan vaksin Corona.

"Korea Utara bahkan tidak mampu memeriksa orang-orang (terkait virus Corona) hingga 3-4 bulan lalu. Sungguh tidak berdasar bagi mereka untuk mengklaim bahwa mereka mendaftarkan partisipan untuk uji coba vaksin COVID-19 terhadap manusia," sebut Choi, yang kini menjadi peneliti di Universitas Korea.

(nvc/ita)