Perusahaan Keamanan di Spanyol Diperiksa Gegara Intai Eks Presiden Ekuador

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Sabtu, 25 Jul 2020 03:21 WIB
The Spanish flag is pictured during pro-unity demonstration in central Barcelona, Spain, October 29, 2017. REUTERS/Yves Herman
Foto: Ilustrasi (Dok. REUTERS/Yves Herman)
Madrid -

Pengadilan Spanyol sedang menyelidiki apakah mantan Presiden Ekuador Rafael Correa diintai oleh perusahaan keamanan yang sama dengan yang menargetkan pendiri WikiLeaks Julian Assange atau tidak. Perusahaan keamanan yang bernama Undercover Global itu pun diperiksa oleh pengadilan.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (24/7/2020), hakim di Pengadilan Nasional Madrid yang mengawasi kasus spionase Assange, bulan lalu membuka penyelidikan atas pengaduan yang diajukan oleh Correa terhadap Undercover Global dan pemiliknya David Morales.

Di pengaduannya, Correa menuduh perusahaan keamanan itu, yang memberinya layanan keamanan hingga 2019, "memantau dan mengambil foto" dari pertemuannya dengan pengacara Spanyol Assange Baltasar Garzon dan menyiapkan laporan dalam bahasa Inggris pada pertemuan lain yang diadakan di Belgia.

Correa tinggal di pengasingannya di Belgia dan dijatuhi hukuman in absentia pada bulan April, ia divonis delapan tahun penjara karena korupsi oleh pengadilan Ekuador, juga menuduh Undercover Global mendapatkan telepon seluler putrinya, "mengakses obrolan, percakapan mereka dan mengambil gambar foto intim" salah satunya.

Bagi hakim Jose de la Mata, tindakan semacam itu "merupakan pelanggaran privasi" dan untuk alasan itu, ia "membuka penyelidikan terhadap David Morales Guillen dan Undercover Global".

Dalam dokumen tersebut, tertanggal 22 Juni, hakim juga meminta agar Correa, istri dan putrinya memberikan kesaksian melalui konferensi video.

Penyelidik Pengadilan Nasional telah menyelidiki Undercover Global sejak tahun lalu ketika Assange menuduh perusahaan keamanan itu memata-matai dia atas nama CIA ketika dia berada di dalam kedutaan Ekuador di London.

Pada saat itu, Undercover Global bertanggung jawab atas keamanan di kedutaan tempat Assange berlindung antara 2012 hingga 2019.

Assange menuduh perusahaan itu mengumpulkan informasi tentang dia melalui kamera video dan mikrofon tersembunyi, menyalin dokumen identitas dan memantau ponsel pengunjung, dan kemudian meneruskan informasi tersebut ke layanan intelijen AS.

Pria berusia 49 tahun itu, yang kini menjalani hukuman dipenjara dengan keamanan tinggi di Inggris, bersaksi melalui konferensi video di depan Pengadilan Nasional pada bulan Desember, dan minggu depan, pengadilan telah memanggil tujuh saksi lagi, termasuk Garzon.

Gugatan itu adalah kunci bagi upaya Assange untuk melawan permintaan ekstradisi oleh Departemen Kehakiman AS karena membocorkan ratusan ribu dokumen rahasia militer dan diplomatik AS pada 2010.

Dia berisiko 175 tahun penjara jika terbukti bersalah. Sidang ekstradisi akan berlangsung di London pada 7 September.

(rfs/rfs)