Raja Salman Dirawat dan Kisah Para Putra Mahkota Arab Saudi

Tim Detikcom - detikNews
Rabu, 22 Jul 2020 19:31 WIB
A handout picture provided by the Saudi Royal Palace shows Saudi Arabias King Salman attending the the first joint European Union and Arab League summit in the Egyptian Red Sea resort of Sharm el-Sheikh, on February 24, 2019. (Photo by BANDAR AL-JALOUD / various sources / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT
Pemimpin Kerajaan Arab Saudi, Raja Salman (Foto: istimewa)
Jakarta -

Penguasa Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz dilarikan ke King Faisal Specialist Hospital pada Senin (20/7/2020) lalu. Raja Arab Saudi ke-7 itu harus menjalani pemeriksaan medis karena peradangan pada kantong empedunya.

Raja Salman telah memerintah Arab Saudi sejak 23 Januari 2015 lalu. Pria yang lahir pada 1935 itu naik takhta menggantikan saudara tirinya Abdullah bin Abdulaziz yang wafat karena sakit.

Selama beberapa dekade, takhta di Kerajaan Arab Saudi tidak diwariskan pada anak. Namun selalu berpindah dalam satu garis keturunan yang semuanya merupakan anak dari pendiri kerajaan Abdulaziz al-Saud yang memerintah dari 1932-1953.

Saat Raja Salman mulai memerintah, pewarisnya ditetapkan jatuh pada Pangeran Muqrin bin Abdulaziz yang juga adik tirinya. Selain sebagai ahli waris, Pangeran Muqrin juga menjabat sebagai Deputi Pertama Perdana Menteri Arab Saudi.

Namun baru tiga bulan memerintah, Raja Salman mencopot hak Pangeran Muqrin sebagai Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi. Mantan Direktur Jenderal Badan Intelijen Arab Saudi itu digantikan Pangeran Mohammed bin Nayef, dedengkot anti-terorisme sekaligus Menteri Dalam Negeri Arab Saudi.

Pangeran Mohammed bin Nayef ini dikenal punya kedekatan dengan negara-negara Barat karena usahanya menumpas Al Qaeda. Berselang dua tahun kemudian, Raja Salman kembali berubah pikiran.

Dia menyingkirkan keponakannya demi putranya yang saat itu berusia 32 tahun, Pangeran Mohammed bin Salman atau MBS. MBS kala itu sudah memegang jabatan Menteri Pertahanan Arab Saudi.

MBS kemudian menggulirkan sejumlah kebijakan untuk mentransformasi dan memodernisasi Arab Saudi yang dikenal konservatif. Kaum perempuan pemegang surat izin mengemudi diperbolehkan menyetir setelah kerajaan tersebut resmi mencabut larangan mengemudi pada Juni 2018.

Sebelumnya kaum perempuan Arab Saudi sudah diizinkan menonton di stadion sepak bola. Belakangan sekitar akhir tahun 2019 pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan baru dengan mengizinkan perempuan menginap seorang diri di hotel dan menjadi tentara.

Di sisi lain, anak Raja Salman itu juga penuh kontroversi. Sedikitnya ada 20 pangeran kerajaan Arab Saudi sudah ditangkap atas tuduhan merancang kudeta untuk menjatuhkan pemerintahan MBS.

Menurut laporan Middle East Eye, pangeran tersebut di antaranya Pangeran Ahmed bin Abdulaziz. Pangeran Ahmed yang juga adik Raja Salman kerap mengkritik kebijakan yang ditempuh MBS. Selain itu mantan Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Nayef juga ikut ditangkap.

Michael Stephens, peneliti pada Royal United Services Institute dalam artikelnya di BBC menyebut bahwa penangkapan demi penangkapan itu merupakan sebuah tindakan pendisiplinan untuk menjamin kesetiaan dan memastikan siapa sesungguhnya yang jadi bos.

Namun yang paling banyak menyita perhatian dunia internasional adalah dugaan keterlibatan MBS dalam pembunuhan Jamal Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis untuk The Washington Post pada Oktober 2018 lalu di Istanbul, Turki. Meski demikian belum ada sinyal dari Raja Salman untuk kembali mengganti Putra Mahkota.

(pal/erd)