2 Pekan Lockdown, Italia Klaim Berhasil Turunkan Penularan Corona

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 20 Mar 2020 10:46 WIB
Italia kini menjadi salah satu negara yang miliki kasus tertinggi terkait penyebaran virus corona. Negara itu pun kini dikunci guna mencegah penyebaran COVID-19
Foto ilustrasi Italia yang di-lockdown. (Getty Images)
Jakarta -

Sudah sejak 9 Maret Italia memberlakukan lockdown nasional. Sepekan berlalu, apakah lockdown sudah berhasil mengatasi penyebaran virus Corona di Italia?

Kondisi yang ada di Italia yakni pergerakan warga dibatasi, semua toko tutup kecuali apotek dan tempat persediaan makanan, perusahaan-perusahaan diperintahkan untuk menghentikan segala kegiatan non-utama, gedung pertunjukan, sekolah, tempat cukur rambut, museum, semua tutup. Penerbangan ditutup. Negara-negara di dunia juga melarang penerbangan menuju Italia.

Dilansir BBC, Jumat (20/3/2020), Menteri Luar Negeri Italia, Luigi Di Maio, menyatakan lokcdown sudah menunjukkan tanda-tanda keberhasilannya mengatasi Corona, khususnya untuk area yang terdampak COVID-19 di awal periode.

10 Kota di Italia belahan utara (Lombardia) dinyatakan sebagai zona merah dan sudah menjalankan lokcdown sejak 23 Februari. Dua pekan setelah lockdwon, ada tanda-tanda menggembirakan. Tak ada lagi laporan kasus positif COVID-19 yang baru di sana.

"Model yang berhasil adalah zona merah, kami membuatnya di 10 kota awal terdampak di kawasan Lombaria. Dua pekan setelah lockdown, mereka mencapai 0 (nol) tingkat penularan. Kemudian kami menerapkan aturan itu (lockdown) ke seluruh Italia," kata Menlu Italia, Luigi Di Maio, dalam tayangan BBC, 19 Maret.

Otoritas setempat mengatakan, butuh dua pekan untuk melihat hasil lockdown, atau dalam bahasa Indonesia juga disebut sebagai 'karantina wilayah'. Italia percaya, mereka bisa membantu negara lain.

Kawasan Vo Euganeo, Kota Veneto, Provinsi Padova adalah salah satu kawasan Italia utara yang diamuk COVID-19 sejak Februari. Kawasan ini juga termasuk awal menerapkan lockdown. 3.300 Orang di kawasan Vo Euganeo dites lagi.

Dilansir Independen dari berita Kamis (19/3) kemarin, hasil tes tersebut menunjukkan hanya 3 persen saja yang masih terinfeksi. Mayoritas sisanya tidak menunjukkan gejala flu apapun. Tes itu dilakukan Universitas Padua.

"Kami bisa menunjukkan bahwa langkah isolasi untuk semua kasus positif COVID-19 bisa menurunkan tingkat penularan," kata Profesor mikrobiologi Universitas Padua, Andrea Crisanti.

"Masalahnya adalah orang-orang tanpa gejala yang sesungguhnya positif COVID-19. Jika kami membiarkan mereka jalan-jalan, kita tidak bakal bisa memusnahkan epidemi ini," kata Andrea Crisanti.

Tonton juga Italia Lockdown, Air Kanal Venesia Jernih dan Muncul Lumba-lumba :

Selanjutnya
Halaman
1 2