Round-Up

Prediksi Tumbangnya Rezim dari 'Putra Mahkota' Iran

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 16 Jan 2020 22:06 WIB
Reza Pahlavi, former Crown Prince of Iran, speaks about current events in Iran at the Hudson Institute in Washington, DC on January 15, 2020, during a conversation with host Michael Doran. (Foto: EVA HAMBACH/AFP)
Reza Pahlavi, former Crown Prince of Iran, speaks about current events in Iran at the Hudson Institute in Washington, DC on January 15, 2020, during a conversation with host Michael Doran. (Foto: EVA HAMBACH/AFP)
Teheran - Ahli waris takhta dari Shah Iran yang telah lengser, Reza Pahlavi, memprediksi bahwa rezim pemerintah Iran saat ini akan segera tumbang. Pahlevi, yang berusia 59 tahun, merupakan anak sulung dari mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi, Shah terakhir dalam Kekaisaran Iran.

Dirangkum detikcom, Kamis (16/1/2020), Pahlavi kerap disebut sebagai Putra Mahkota Iran atau ahli waris terakhir untuk takhta Negara Kekaisaran Iran. Ayahnya yang telah wafat tahun 1980 lalu, memiliki gelar 'Shahanshah' atau yang berarti 'Raja dari Segala Raja'.

Shah Mohammad Reva Pahlavi menjabat di Kekaisaran Iran antara September 1941 hingga dilengserkan oleh Revolusi Iran pada Februari 1979 silam. Kini putranya, Reza Pahlavi, menjadi pemimpin Dinasti Pahlavi.


Pahlavi memprediksi rezim pemerintah Iran saat ini akan tumbang dalam beberapa bulan ke depan. Pahlavi mendorong negara-negara Barat untuk tidak berunding dengan rezim Iran saat ini.

Pahlavi yang kini tinggal dalam pengasingan di Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa unjuk rasa besar-besaran yang muncul di Iran pada November 2019 dan bulan ini, setelah jatuhnya pesawat maskapai Ukraina, mengingatkannya pada unjuk rasa yang melengserkan mendiang ayahnya tahun 1979 silam.

"Itu hanya masalah waktu sebelum mencapai klimaks akhir. Saya pikir kita ada dalam mode itu," kata Pahlavi dalam konferensi pers terbaru di Washington, AS, seperti dilansir AFP, Kamis (16/1).

"Saat ini adalah beberapa pekan atau beberapa bulan sebelum keruntuhan total, tidak jauh berbeda dengan tiga bulan terakhir tahun 1978 sebelum revolusi," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3