detikNews
Kamis 20 Juni 2019, 04:31 WIB

Sikap AS hingga Turki soal Pemulangan Keluarga ISIS

Danu Damarjati - detikNews
Sikap AS hingga Turki soal Pemulangan Keluarga ISIS Foto ilustrasi kepulangan mantan ISIS (Edi Wahyono/detikcom)
Paris - Sejak runtuhnya ISIS pada Maret lalu, masyarakat internasional berpikir soal apa yang harus dilakukan terhadap keluarga para petempur kelompok teror itu. Masih ada belasan ribu orang yang telantar di kamp-kamp pengungsian Timur Tengah.

Dilansir AFP, Rabu (19/6/2019), sekitar 12 ribu warga negara asing dari sekitar 40 negara masih berada di berbagai kamp pengungsian. Mereka terdiri dari 4 ribu perempuan dan 8 ribu anak-anak.

Kebanyakan dari mereka ada di kamp Al-Hol di timur laut Suriah. Di kawasan ini, ada tekanan otoritas Kurdi supaya mereka dikembalikan ke negara-negara asal masing-masing. Berikut adalah rangkuman tentang sikap beberapa negara soal pemulangan (repatriasi) keluarga ISIS.

Rusia dan Kosovo jadi yang pertama

Hampir 4.500 warga Rusia yang bertempur bersama ISIS. Di kalangan internasional, otoritas Moskow menjadi pihak paling pertama yang bersedia mengatur pemulangan para warganya, meski orang-orang itu pernah bersama ISIS.


Hingga Februari lalu, sudah 200 perempuan dan anak-anak yang dipulangkan. Kebanyakan dari mereka berasal dari republik-republik Islamis Rusia di kawasan Kaukasus. Moskow memperkirakan masih ada 1.400 anak-anak ISIS yang masih telantar.

Kosovo, kawasan Eropa dengan komposisi penduduk 90 persen muslim, mengumumkan soal pemulangan 110 warganya dari Suriah. Hampir semua dari mereka adalah para istri dan anak dari petempur ISIS.

Prancis dan Belgia mempertimbangkan kasus per kasus

Paris menyatakan pihaknya mempelajari dokumen para warganya yang berada di timur laut Suriah. Mereka akan memutuskan pemulangan warganya berdasarkan pertimbangan kasus per kasus.

Di tengah perselisihan opini publik, 12 anak yatim dari petempur ISIS asal Prancis telah dipulangkan dari Suriah pada 10 Juni. Prancis juga memulangkan lima anak yatim dari Suriah pada pertengahan Maret, juga memulangkan gadis kecil usia tiga tahun yang ibunya dihukum seumur hidup di Irak.


Belgia juga merupakan salah satu negara yang "menyumbang" banyak personel petempur ISIS. Sekitar 400 orang telah pergi meninggalkan Belgia sejak 2012.

Antara 50 hingga 60 anak-anak Belgia masih berada di kamp-kamp kawasan Kurdi di Suriah. Pada 13 Juni, Belgia mengatakan akan membawa enam anak yatim dari kamp tersebut, empat di antaranya berusia lebih dari 10 tahun.

Jerman: anak-anak adalah korban, perlu dipulangkan

Belasan anak-anak dari petempur ISIS telah dipulangkan dari Irak ke Jerman sejak Maret. Otoritas Jerman mengatakan anak-anak adalah "korban" dan mereka harus dipulangkan bila ada keluarga yang mengambilnya.



Anak-anak yang telah teradikalisasi akan ditempatkan di institusi khusus namun tidak dikekang.

Denmark cabut kewarganegaan

Denmark akan mencabut kewarganegaraan dari anak-anak petempur ISIS. Keputusan ini didasarkan pada draf undang-undang yang disusun pemerintah pada Maret lalu. Anak-anak dari petempur ISIS yang lahir di luar negeri tak akan mendapat kewarganegaraan Denmark.

Amerika Serikat

Washington mendorong negara-negara Barat untuk memulangkan warganya. AS sendiri juga melakukan langkah repatriasi tersebut terhadap sejumlah warganya sendiri.


Dua perempuan AS dan enam anak-anak dari keluarga terduga ISIS dipulangkan pada awal Juni lalu. Pada Juli 2018, Washington membawa pulang tiga petempur ISIS untuk diseret ke meja hijau dan juga memulangkan seorang perempuan dengan empat anaknya.

Inggris

London sedang mencari cari untuk memulangkan anak-anak Inggris dari kamp pengungsian. Namun Inggris ogah mendorong pemulangan warganya yang sudah dewasa. Sejumlah orang-orang dewasa yang menjadi anggota ISIS dilucuti kewarganegaraannya.

Sikap itu mendapat sorotan kritis pada Maret lalu, saat perempuan usia 19 tahun bernama Shamima Begum kabur dari Inggris untuk bergabung dengan ISIS di Suriah. Dia kini kehilangan kewarganegaraan Inggris-nya.

Tunisia: tak ada repatriasi

Berdasarkan data PBB tahun 2015, sekitar 5 ribu warga Tunisia bergabung dengan ISIS di Suriah dan Libya. Human Rights Watch menyoroti menyoroti soal tak adanya anak-anak yang dipulangkan dari Suriah.


Pemerintah Tunisia khawatir pemulangan anak-anak akan mempercepat kepulangan orang tua mereka yang merupakan petempur ISIS. Problem ini dilaporkan oleh aktivis hak asasi manusia setempat.

Tajikistan, Uzbekistan

Ada seribu warga Tajikistan yang pergi bertempur untuk ISIS. Hingga Mei lalu, ada 84 anak-anak petempur ISIS yang telah dipulangkan ke Tajikistan dari Irak.


Pada 30 Mei, Uzbekistan menyatakan telah memulangkan 156 warganya, kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Turki

Pada akhir Mei, Irak memulangkan 188 anak-anak ke Turki. Anak-anak itu diduga merupakan putra-putri ISIS.
(dnu/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com