DetikNews
Kamis 07 Juni 2018, 16:20 WIB

Tegang dengan China, Taiwan Gelar Latihan Militer Besar-besaran

Novi Christiastuti - detikNews
Tegang dengan China, Taiwan Gelar Latihan Militer Besar-besaran Jet tempur F-16 milik Taiwan ikut serta dalam latihan militer Han Kuang (REUTERS/Tyrone Siu)
Taipei - Militer Taiwan menggelar latihan militer berskala besar di tengah ketegangan dengan China. Latihan militer tahunan fokus menangkal serangan invasi asing dan untuk pertama kalinya menggunakan drone yang dioperasikan oleh sipil.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (7/6/2018), latihan militer bernama Han Kuang yang digelar di Taichung ini dipimpin oleh Presiden Taiwan Tsai Ing-wen dan disaksikan Raja eSwatini yang sedang berkunjung. eSwatini merupakan sebuah kerajaan di Afrika yang sebelumnya dikenal sebagai Swaziland.


Latihan militer ini digelar di tengah ketegangan antara Taiwan dan China. Beberapa bulan terakhir, Angkatan Udara China melakukan rentetan manuver militer di dekat Taiwan. Aksi itu dikecam Taiwan sebagai bentuk intimidasi.

"Efektivitas tempur pasukan bersenjata kita menjadi jaminan keamanan nasional kita. Ini menjadi dasar masyarakat yang berkembang, dan menjadi kekuatan pendukung bagi nilai-nilai demokrasi dan kebebasan," ucap Tsai.

"Selama pasukan bersenjata kita masih ada, Taiwan tentu akan tetap ada," imbuhnya.


Lebih dari 4 ribu personel dan lebih dari 1.500 buah perlengkapan dikerahkan dalam latihan tahunan itu. Sejumlah drone atau pesawat tanpa awak ikut mengudara, untuk memberikan bantuan pengawasan di medan pertempuran. Sedangkan sejumlah pekerja konstruksi berlatih memperbaiki landasan pangkalan udara saat pertempuran berlangsung.

Raja eSwatini, Mswati III, yang merupakan sekutu asal Afrika terakhir bagi Taiwan, merupakan pemimpin asing pertama yang menyaksikan latihan tahunan Han Kuang sejak Presiden Tsai menjabat sejak tahun 2016.


China telah menyerukan agar eSwatini memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan sebelum awal September 2017, saat China menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin negara-negara Afrika. Taiwan menuding China menggunakan diplomasi dolar untuk menjauhkan sekutu-sekutu Taiwan, menjanjikan paket-paket bantuan yang dermawan. China telah membantah tudingan itu.

"Saat proses latihan berlangsung, pasukan bersenjata kami menunjukkan kemampuan tempur mereka dan negara sekutu kami bisa mengamatinya. Ini cara yang kami harap memperdalam dialog di antara kedua pihak," ucap juru bicara Kementerian Pertahanan Taiwan, Cheng Chung-chi.

Taiwan menyatakan pihaknya telah menerima jaminan dari eSwatini bahwa hubungan diplomatik kedua negara aman. Baru-baru ini Taiwan kehilangan dua sekutu diplomatiknya, yakni Burkina Faso dan Republik Dominika, yang memutuskan menjalin hubungan dengan China. Secara resmi, Taiwan hanya menjalin hubungan diplomatik dengan 18 negara di dunia.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed