DetikNews
Sabtu 26 Mei 2018, 18:06 WIB

Politikus Malaysia Minta Kasus Pembunuhan Model Mongolia Dibuka Lagi

Novi Christiastuti - detikNews
Politikus Malaysia Minta Kasus Pembunuhan Model Mongolia Dibuka Lagi Altantuya Shariibuu (thestar.com.my)
FOKUS BERITA: Najib Razak Ditangkap
Kuala Lumpur - Seorang anggota parlemen Malaysia mengajukan laporan polisi untuk membuka kembali kasus pembunuhan model Mongolia, Altantuya Shariibuu, tahun 2006. Polisi Malaysia diminta mencari motif di balik kasus pembunuhan yang diduga melibatkan mantan Perdana Menteri (PM) Najib Razak itu.

Seperti dilansir The Star, Sabtu (26/5/2018), Lim Lip Eng yang merupakan anggota parlemen mewakili wilayah Kepong di Kuala Lumpur mengajukan laporan baru ke kantor polisi Jinjang pada Sabtu (26/5) pagi waktu setempat.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa, baik Pengadilan Tinggi maupun Pengadilan Federal telah gagal menemukan motif di balik pembunuhan itu, juga identitas orang yang memerintahkan pembunuhan itu.


Pada tahun 2009 lalu, dua mantan polisi Malaysia bernama Sirul Azhar Umar dan Azilah Hadri dinyatakan terbukti bersalah telah membunuh Altanyuya. Keduanya divonis mati, meskipun akhirnya vonis itu digugurkan Pengadilan Banding tahun 2013.

"Sirul telah menyatakan dirinya bersedia mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dan pernyataannya ini harus direkam," sebut Lim saat mengajukan laporan ke polisi. "Orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Altantuya seharusnya didakwa atas persekongkolan pembunuhan," imbuhnya.

Laporan polisi terbaru ini diajukan Lim setelah Kepala Kepolisian Malaysia, Inspektur Jenderal Polisi Mohamad Fuzi Harun, menyatakan bahwa pihaknya belum membuka kembali kasus pembunuhan Altantuya karena tidak ada dasar dan tidak ada laporan polisi baru yang diajukan.

Altantuya berusia 28 tahun saat dibunuh di sebuah hutan dekat Subang Dam, Puncak Alam, Shah Alam, Malaysia tahun 2006 lalu. Dia diyakini ditembak mati sebelum jenazahnya diledakkan dengan peledak hingga berkeping-keping.


Mantan pengamat politik, Abdul Razak Baginda, yang pernah menjadi penasihat politik mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak, didakwa bersama-sama dengan Sirul dan Azilah. Namun Abdul Razak dibebaskan pada 31 Oktober 2008 setelah pengadilan menyatakan tidak ada bukti konkret yang menunjukkan dia terlibat.

Sirul sendiri melarikan diri ke Australia untuk menghindari hukuman mati. Beberapa waktu lalu dalam wawancara dengan Malaysiakini, Sirul yang masih ada di Australia mengaku bersedia membantu pemerintah baru Malaysia untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus itu.

"Kasus itu adalah satu-satunya (dugaan) kejahatan saya, karena saya tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. Oleh karena itu, saya bersedia membantu pemerintah baru untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi asalkan pemerintah memberi saya grasi penuh," kata Sirul saat itu.

Dibukanya kembali kasus pembunuhan Altantuya disinyalir akan semakin menyudutkan Najib. Sebabnya, kelompok-kelompok masyarakat sipil menduga pembunuhan Altantuya terkait dengan perannya sebagai penerjemah dan rekan Abdul Razak Baginda, mantan penasihat Najib, dalam pembelian dua kapal selam kelas Scorpene dari perusahaan raksasa Prancis, DCNS tahun 2002.


Pembelian kapal selam itu diduga kuat sarat penyuapan. DCNS disebut-sebut membayar 'komisi' lebih dari 114 juta Euro kepada beberapa pejabat Malaysia. Dicurigai, Altantuya mengetahui praktik penyuapan itu dan dia dibunuh untuk dibungkam. Najib sendiri telah membantah tuduhan terkait Altantuya maupun tuduhan korupsi dalam pembelian kapal selam tersebut.

Pembelian kapal selam itu terjadi saat Najib menjabat Menteri Pertahanan Malaysia antara tahun 2000-2008 dan Abdul Razak menjadi penasihatnya. Sedangkan Sirul yang seorang polisi aktif, sempat menjadi pengawal pejabat kementerian Malaysia saat itu.


(nvc/nkn)
FOKUS BERITA: Najib Razak Ditangkap
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed