DetikNews
Sabtu 17 Maret 2018, 19:00 WIB

Rusia Gelar Pilpres Besok, Putin Diprediksi Menang Mudah

Novi Christiastuti - detikNews
Rusia Gelar Pilpres Besok, Putin Diprediksi Menang Mudah Vladimir Putin (Sputnik/Alexei Nikolskyi/Kremlin via REUTERS)
Moskow - Di tengah ketegangan dengan Inggris terkait eks mata-mata yang diracun, Rusia akan menggelar pemilihan presiden (pilpres) terbaru pada 18 Maret besok. Presiden Rusia, Vladimir Putin, diprediksi menang mudah dalam pilpres kali ini.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (17/3/2018), Putin kembali mencalonkan diri untuk keempat kalinya dalam pilpres yang digelar Minggu (18/3) besok. Polling terbaru menyebut sekitar 70 persen pemilih akan mendukung Putin dalam pilpres ini.

Ada tujuh kandidat capres lainnya yang menantang Putin dalam pilpres ini.


Mereka terdiri atas jutawan Pavel Grudinin (57) dari Partai Komunis Federasi Rusia, Vladimir Zhirinovsky (71) dari Partai Liberal Demokratik Rusia (LDPR) yang sudah 6 kali menjadi capres, pakar ekonomi liberal Grigory Yavlinsky (65) dari Yabloko atau Partai Demokratik Bersatu Rusia, pakar hukum Sergey Baburin (59) dari Partai Russian All-People's Union (ROS), pengusaha Boris Titov (57) dari Party of Growth yang baru kali ini mencalonkan diri dalam pilpres, insinyur Maxim Suraykin (39) dari Partai Communists of Russia, dan sosialita yang juga presenter televisi Ksenia Sobchak (36) dari Partai Civic Initiative.

Sobchak yang juga anak dari mentor Putin, Anatoly Sobchak, ini menjadi satu-satunya kandidat perempuan dalam pilpres ini.

Diketahui bahwa tujuh capres yang menjadi lawan Putin itu tidak ada yang mendapat angka dukungan di atas 8 persen dalam polling pilpres. Dengan demikian, Putin hampir dipastikan memperpanjang kepemimpinannya hingga tahun 2024 mendatang. Presiden Rusia memiliki masa jabatan 6 tahun untuk satu periodenya. Putin diketahui telah menjabat Presiden Rusia selama tiga periode, yakni tahun 2000-2004, 2004-2008, dan 2012-2018.


Penantang Putin paling kritis, Alexei Navalny, dilarang untuk ikut pilpres karena alasan hukum. Beberapa waktu lalu, Navalnya yang berulang kali ditangkap otoritas Rusia karena mendemo pemerintah ini, mengajak pengikutnya untuk memboikot pilpres yang disebutnya 'penuh kepura-puraan'.

Putin yang memiliki slogan 'presiden kuat -- Rusia kuat' ini, menolak ikut serta dalam debat di televisi dan sama sekali tidak mempersiapkan material baru untuk iklan kampanyenya. Di sisi lain, Putin memiliki dukungan kuat dari media nasional Rusia untuk menanamkan citranya ke publik Rusia, sebagai sosok presiden yang memulihkan stabilitas dan kehormatan nasional usai runtuhnya Uni Soviet.

Selama ini Putin berupaya menunjukkan peran Rusia sebagai kekuatan dunia yang utama. Beberapa waktu lalu dia memamerkan rentetan senjata baru Rusia yang diklaimnya 'tak terkalahkan'. Dia juga meningkatkan peran Rusia untuk rezim Suriah.


Sementara itu, meningkatnya ketegangan dengan Barat terkait insiden diracunnya eks mata-mata Rusia, Sergei Skripal, di Inggris, lalu dijatuhkannya sanksi dari Amerika Serikat (AS) terkait dugaan intervensi pilpres, malah semakin meningkatkan citra Rusia dalam pertikaian dengan dunia.

"Di Amerika dan Eropa, mereka berusaha membuat kita membungkuk dan berlutut, tapi kita masih berdiri," ucap salah satu warga Moskow, Sergei Babayev (55), kepada AFP menjelang pemungutan suara. "Mereka menjanjikan kita sebuah krisis dan kita bisa melaluinya. Itulah kualitas utama Putin -- dia berada di inti negara kita," imbuhnya.

Pemungutan suara akan dimulai dari wilayah timur jauh Rusia pada Minggu (18/3) dini hari, sekitar pukul 00.00 waktu setempat. Kemudian akan diakhiri di Kalilingrad sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Kaliningrad merupakan wilayah Rusia paling barat yang ada di antara negara Eropa. Pemungutan suara dilakukan lebih awal di beberapa area terpencil Rusia, dengan surat suara dibawa dengan helikopter dan kendaraan salju.


(nvc/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed