Mengutip rilis dari Thomson Reuters Foundation, survei dilakukan terhadap 380 pakar isu perempuan yang berasal dari 19 kota besar yang masing-masingnya ditinggali lebih dari 10 juta orang.
Survei dilakukan untuk menilai seberapa baik kota tersebut melindungi perempuan dari kejahatan seksual dan praktik budaya yang berbahaya, serta apakah mereka mendapat akses untuk pelayanan kesehatan yang baik, pendidikan, dan kesempatan ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu kota yang dianggap paling ramah perempuan adalah London, Inggris. Menyusul di posisi kedua dan ketiga adalah Tokyo (Jepang) dan Paris (Prancis).
Dikutip dari Japan Today, Senin (16/10/2017), aktivis perempuan di Kairo menyebut, tradisi yang sudah berjalan berabad-abad lalu yang membuat perempuan berada di posisi sulit dan mengalami diskriminasi.
"Kita masih berada di bawah negara konservatif dan sulit untuk mengambil langkah-langkah progresif radikal dalam aturan hukum untuk perempuan dan perempuan itu sendiri," kata salah satu pendiri Forum Women and Memory Forum Omaima Abou-Bakr, yang berbasis di Kairo.
"Segala sesuatu tentang kota ini sulit bagi perempuan. Kami melihat perempuan berjuang dalam segala aspek, bahkan untuk berjalan santai di jalan, dan mereka mengalami pelecehan, baik secara verbal maupun bahkan fisik," kata jurnalis senior Mesir dan aktivis hak-hak perempuan, Shahira Amin.











































