Pria 23 Tahun Ditangkap Terkait Bom di Konser Ariana Grande

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 23 Mei 2017 18:35 WIB
Polisi bersenjata lengkap berjaga di Manchester (Reuters)
London - Kepolisian Inggris menangkap seorang pria berusia 23 tahun terkait bom bunuh diri di Manchester. Ledakan bom terjadi di kompleks Manchester Arena yang menjadi lokasi konser penyanyi ternama Amerika Serikat (AS) Ariana Grande.

Bom meledak sesaat setelah konser berakhir pada Senin (22/5) malam sekitar pukul 22.33 waktu setempat. Sedikitnya 22 orang, termasuk anak-anak, tewas akibat ledakan bom itu. Sedangkan 59 orang lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di 8 rumah sakit berbeda.

Kepolisian Manchester mengkonfirmasi ledakan berasal dari seorang pengebom bunuh diri, yang dipastikan tewas di lokasi usai meledakkan bom rakitan yang dibawanya. Polisi meyakini pelaku beraksi sendirian, namun dicurigai ada beberapa pihak yang terlibat dalam persiapan serangan.

Baca juga: Bom Bunuh Diri di Konser Ariana Grande, Pelaku Dipastikan Tewas

Seperti dilansir Reuters dan media Inggris, The Telegraph, Selasa (23/5/2017), kepolisian Inggris menangkap seorang pria yang dicurigai terkait dengan bom bunuh diri di Manchester. Identitas pria yang ditangkap itu tidak dirilis ke publik.

"Terkait penyelidikan serangan mengerikan semalam di Manchester Arena, kami bisa mengkonfirmasi bahwa kami telah menangkap seorang pria berusia 23 tahun di South Manchester," demikian pernyataan resmi Kepolisian Manchester via Twitter.

Belum diketahui secara rinci peran pria yang ditangkap dalam ledakan mematikan itu.

Baca juga: Trump Sebut Pelaku Bom di Konser Ariana Grande Pecundang Jahat

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, dalam pernyataan terbarunya menyebut serangan bom bunuh diri ini sebagai aksi memuakkan yang menargetkan anak-anak dan remaja. Kebanyakan penggemar dan penonton konser Ariana Grande memang masih anak-anak dan remaja.

Terkait pelaku bom bunuh diri, PM May menyatakan pihaknya belum bisa merilis identitasnya. Dia beralasan, penyelidikan secara menyeluruh masih terus berlangsung, termasuk penyelidikan untuk mencari tahu apakah pelaku memiliki rekan dalam serangan ini.

"Kita sekarang tahu bahwa seorang teroris tunggal meledakkan alat peledak rakitannya di dekat salah satu pintu keluar, dia dengan sengaja memilih waktu dan tempat yang menyebabkan kekacauan maksimal dan menewaskan serta melukai tanpa pandang bulu," ucap PM May dalam pernyataan terbaru di Downing Street, London.

(nvc/ita)