Malaysia Deportasi 3 Pria Turki yang Dicurigai Terkait Gulen

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 12 Mei 2017 15:44 WIB
Ilustrasi (REUTERS/Umit Bektas)
Kuala Lumpur - Tiga pria asal Turki yang ditahan otoritas Malaysia terkait tudingan mengancam keamanan nasional, akhirnya dideportasi ke negara asalnya. Ketiganya diduga terkait kelompok ulama ternama Fethullah Gullen, yang diyakini otoritas Turki mendalangi upaya kudeta tahun lalu.

Sepanjang pekan lalu, otoritas Malaysia menahan tiga pria Turki yang diidentifikasi sebagai Turgay Karaman (43) yang menjabat kepala sekolah di sekolah internasional setempat, lalu Ihsan Aslan (39), seorang pengusaha dan Izmet Ozcelik (58), seorang akademisi. Ketiganya disebut otoritas Malaysia, menimbulkan ancaman untuk keamanan nasional.

Penahanan ini menuai kekhawatiran kelompok HAM yang mencurigai ketiga pria itu ditahan di Malaysia karena tekanan dari Turki. Pada awal penahanan pria-pria Turki ini, otoritas Malaysia tidak menjelaskan apakah ketiganya terkait dengan kelompok Gulen.

Baca juga: Diduga Mengancam Keamanan Nasional, 2 WN Turki Ditahan di Malaysia

Dalam pernyataan terbaru, seperti dilansir Reuters, Jumat (12/5/2017), Inspektur Jenderal Kepolisian Malaysia Khalid Abu Bakar menyatakan ketiga pria Turki itu telah dideportasi ke Ankara sehari sebelumnya.

Khalid menyebut, ketiga pria Turki itu dicurigai terlibat dalam FETO, kelompok pendukung Gulen yang dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh Turki. Otoritas Turki menyebut kelompok tersebut sebagai 'Organisasi Teroris Gulen'.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berulang kali menuding Gulen yang kini menetap di Amerika Serikat, sebagai dalang utama di balik upaya kudeta pada Juli 2016. Gulen maupun pendukungnya telah membantah tudingan itu.

Baca juga: Lagi! Malaysia Tangkap WN Turki yang Mengancam Keamanan Nasional

Dijelaskan Khalid, penyelidikan kepolisian Malaysia menemukan bahwa ketiga pria itu pernah terlibat dalam aktivitas FETO dan masuk daftar buronan otoritas Turki. Pemerintah Turki juga telah mencabut semua dokumen perjalanan ketiga pria itu.

"Dengan demikian, keberadaan mereka di Malaysia tidak sah dan status mereka dinyatakan sebagai imigran ilegal," tegas Khalid.

Khalid menyatakan kepolisian Malaysia akan terus mengawasi setiap kelompok maupun militan asing yang berusaha menjadikan Malaysia sebagai 'pusat logistik, persembunyian, tempat pengumpulan dana maupun basis operasional untuk merencanakan serangan di negara lain'.

(nvc/ita)