Ketika Era Obama, Trump Pernah Serukan Jangan Serang Suriah

Ketika Era Obama, Trump Pernah Serukan Jangan Serang Suriah

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 07 Apr 2017 16:48 WIB
Ketika Era Obama, Trump Pernah Serukan Jangan Serang Suriah
Donald Trump (REUTERS/Jonathan Ernst)
Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk menyerang pangkalan udara Suriah. Padahal beberapa tahun lalu, Trump mengkritik habis-habisan rencana Presiden Barack Obama untuk melakukan aksi militer di Suriah.

Seperti dilansir CNN, Jumat (7/4/2017), tweet-tweet lama Trump dari tahun 2013 kembali muncul ke publik setelah AS melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan udara Shayrat, Suriah pada Jumat (7/4) subuh waktu setempat. Pangkalan udara itu dipilih menjadi target karena menjadi lokasi awal mula serangan kimia yang diduga didalangi rezim Suriah di kota Khan Sheikhun, Provinsi Idlib pada Selasa (4/4) waktu setempat.

Baca juga: Rusia: Serangan Rudal AS Direncanakan Sebelum Serangan Kimia

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat itu, pemerintahan Obama menyimpulkan bahwa Suriah telah melanggar 'garis merah' atau 'red line' yang ditetapkan Obama, setahun sebelumnya. Garis merah yang dimaksud mengenai penggunaan senjata kimia terhadap rakyat Suriah. Namun saat itu, pemerintahan Obama memutuskan untuk tidak melakukan aksi militer ke Suriah, karena mendukung kesepakatan pemusnahan persediaan senjata kimia Suriah yang dicetuskan Rusia.




Trump saat itu menyerukan kepada Obama untuk tidak menyerang Suriah. "Kita harus menjauhkan diri dari Suriah, 'pemberontak' sama buruknya dengan rezim saat ini," kicau Trump via akun Twitter pribadinya @realDonaldTrump pada 16 Juni 2013.

"Satu-satunya alasan Presiden Obama ingin menyerang Suriah adalah untuk menyelamatkan dirinya dari pernyataan RED LINE yang sangat bodoh. Jangan serang Suriah," ucap Trump lagi pada tweet tertanggal 5 September 2013.

"Presiden Obama, jangan serang Suriah. Tidak ada sisi baiknya dan banyak sisi buruknya. Simpan 'mesiu' Anda untuk hari lain (dan lebih penting)," ujar Trump lagi via Twitter pada 7 September 2013.




Dalam pesan Twitter-nya saat itu, Trump juga menyerukan agar Obama mendapat izin dari Kongres sebelum melancarkan aksi militer ke Suriah. "Apa yang akan kita dapatkan dengan mengebom Suriah selain lebih banyak utang dan kemungkinan konflik jangka panjang?" kicau Trump pada 30 Agustus 2013.

Namun pada Kamis (6/4) malam waktu AS, Trump menyampaikan pidato yang isinya menjelaskan alasan AS melancarkan serangan rudal ke Suriah. Keputusan ini menjadi aksi langsung paling keras yang pernah dilakukan AS selama 6 tahun konflik Suriah berlangsung.

"Malam ini, saya memerintahkan serangan militer terarah terhadap pangkalan udara Suriah yang menjadi lokasi diluncurkannya serangan kimia. Ini penting bagi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat untuk mencegah dan menangkal menyebarnya penggunaan senjata kimia mematikan," tegas Trump.

Baca juga: Sambut Serangan AS ke Suriah, Turki: Kami Ingin Lihat Aksi

Keputusan Trump untuk menyerang Suriah ini diambil beberapa hari setelah pemerintah AS menyatakan tak lagi fokus untuk melengserkan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sikap ini bertentangan dengan negara-negara besar Eropa, yang tetap bersikeras agar Assad meletakkan jabatannya.

Sikap Trump berubah setelah serangan kimia terjadi pada 4 Maret di Khan Sheikhun. "Saya akan memberitahu Anda bahwa ini telah terjadi, bahwa sikap saya terhadap Suriah dan Assad telah sangat berubah. Ketika Anda membunuh anak-anak tak bersalah -- bayi-bayi tak bersalah -- bayi-bayi -- bayi-bayi kecil dengan gas kimia yang sangat mematikan, orang-orang terkejut mendengar gas apa itu, itu telah melanggar banyak garis. Di luar garis merah, banyak-banyak garis," tegas Trump.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads