Penyelidikan awal, seperti dilansir media Malaysia, The Star, Sabtu (2/4/2016), menyebut kapal berbendera Malaysia, MV MASFIVE 6, yang membawa 9 ABK itu dicegat 8 pria bersenjata ketika berlayar di dekat Pulau Ligitan, pulau kecil di Tawau, Sabah yang sempat jadi sengketa Malaysia dan Indonesia.
Para pelaku dilaporkan menodongkan senjata api dan memaksa awak turun dari kapal. Para pria bersenjata yang menumpang kapal motor itu kemudian membawa pergi empat warga Malaysia dari kapal tersebut. Sedangkan lima awak kapal lainnya, yang semuanya warga negara asing, tidak ikut diculik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: 4 Warga Malaysia Diculik Kelompok Abu Sayyaf di Perairan Dekat Sabah
Kelima awak asing itu terdiri atas tiga warga Myanmar dan dua warga Indonesia. Kelimanya langsung berlayar ke Tawau dan melaporkan penculikan itu pada polisi setempat. Kini, kelima awak asing itu tengah dimintai keterangan lebih rinci soal insiden yang terjadi pada Jumat (1/4) malam waktu setempat.
Hingga kini, otoritas Malaysia masih menyelidiki apakah penculikan itu terjadi di wilayah perairan Malaysia atau perairan internasional. "Area itu sangat luas dan kita memiliki aset di sana. Jadi kami masih menyelidiki apakah insiden itu terjadi di dalam atau luar perairan kita," terang Abdul Harun.
Informasi lain menyebut, kapal Malaysia itu tengah berlayar kembali ke Tawau setelah mengantarkan muatan berupa gelondongan kayu ke Manila, Filipina, ketika dicegat sekelompok pria bersenjata. Belum ada konfirmasi resmi bahwa kelompok Abu Sayyaf benar yang mendalangi penculikan itu.
Juru bicara militer regional Filipina, Felimon Tan, menyatakan pihaknya masih memverifikasi laporan penculikan tersebut. Namun laporan media lokal, Inquirer.net, menyatakan penculik 4 warga Malaysia itu memang anggota kelompok Abu Sayyaf. Belum ada laporan soal uang tebusan yang diminta pelaku penculikan tersebut.
Sementara itu, penyanderaan 10 WNI oleh kelompok yang sama masih berlangsung. Militer Filipina menolak tawaran bantuan militer Indonesia dalam operasi penyelamatan WNI, namun Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menyatakan siap membantu jika Filipina membutuhkan.
Baca juga: Ke Filipina, Menlu RI Intensifkan Komunikasi Soal 10 WNI yang Disandera
(nvc/bpn)











































