AS Sebut Pengumuman Darurat Militer Oleh Putin Kebohongan

ADVERTISEMENT

AS Sebut Pengumuman Darurat Militer Oleh Putin Kebohongan

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Jumat, 21 Okt 2022 03:45 WIB
Russian President Vladimir Putin attends a meeting with International Atomic Energy Agency (IAEA) head Rafael Grossi in Saint Petersburg, Russia, October 11, 2022. Sputnik/Pavel Bednyakov/Pool via REUTERS
Foto: Presiden Rusia, Vladimir Putin (Sputnik/Pavel Bednyakov/Pool via REUTERS)
Jakarta -

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Ned Price mengatakan pemberlakuan darurat militer oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin di wilayah Ukraina yang dianeksasi menunjukkan klaimnya bahwa orang-orang ingin bergabung dengan Rusia adalah kebohongan. Hal itu disampaikan Ned Pice kepada wartawan, Kamis waktu setempat.

"Presiden Putin mencaplok wilayah-wilayah ini dengan mengklaim bahwa ada orang-orang di wilayah ini yang begitu putus asa mencari perlindungan dari negara Ukraina sehingga mereka ingin bergabung dengan Ibu Rusia," kata Ned Price dilansir AFP, Jumat (21/10/2022).

"Sekarang Putin, saya pikir, membuktikan kebohongannya dengan mengumumkan darurat militer," lanjutnya

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan darurat militer di empat wilayah Ukraina yang baru-baru ini dicaplok oleh Moskow.
Keputusan itu dikeluarkan ketika Ukraina mengatakan telah menembak jatuh "beberapa roket Rusia" di atas Kyiv, dalam tiga hari berturut-turut serangan rudal dan pesawat tak berawak (drone) di ibukota Ukraina itu. Serangan-serangan ke ibu kota Ukraina itu dilancarkan Rusia setelah serangkaian kekalahan medan perang untuk Moskow.

Pemberlakuan darurat militer di wilayah-wilayah yang dikuasai Moskow tersebut juga memberikan kekuatan tambahan kepada pihak berwenang di wilayah Rusia selatan yang berbatasan dengan Ukraina.

"Kami sedang mengerjakan tugas-tugas skala besar yang sangat kompleks untuk memastikan keamanan dan melindungi masa depan Rusia," kata Putin seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (20/10/2022).

Sementara itu para pejabat pro-Kremlin mengatakan mereka menarik diri dari kota utama Kherson di Ukraina selatan pada Rabu (19/10), seiring pasukan Ukraina terus bergerak maju mendekati wilayah yang diduduki Rusia sejak awal invasi tersebut.

Kherson adalah kota besar pertama dan satu-satunya yang jatuh ke tangan pasukan Moskow sejak invasi Februari dimulai. Merebut kembali kota tersebut akan menjadi hadiah penting dalam serangan balik Ukraina.

"Seluruh pemerintahan sudah bergerak hari ini ke tepi timur Sungai Dnieper," kata kepala wilayah Kherson yang ditunjuk di Moskow, Vladimir Saldo, kepada televisi pemerintah Rusia.

Simak juga Video: Aksi Putin Jajal Senjata Kala Sidak di Kamp Pelatihan Cadangan Militer Rusia

[Gambas:Video 20detik]




(dek/dek)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT